BERITA

Konsistensi Mbah Painah Berjualan Daun Pisang dan Menabung Berbuah Ibadah Haji

×

Konsistensi Mbah Painah Berjualan Daun Pisang dan Menabung Berbuah Ibadah Haji

Sebarkan artikel ini
Mbah Painah, penjual daun pisang asal Wonosobo, Jateng, didampingi Sabar, anak bungsunya, bisa menunaikan haji setelah konsisten menabung selama 18 tahun. (Foto: Media Center Haji 2026/Abd. Aziz)

Satukanal.com, Makkah – Benarlah jika Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata, “Unzhur maa qoola wa laa tanzhur man qoola”, yang artinya lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.

Yang hidup berkecukupan, masih muda, namun belum mendaftar haji, rasanya patut malu dan perlu mengetahui kisah Mbah Painah ini.

Kisah nenek usia 65 tahun itu yang sudah 35 tahun berjualan pisang ini layak menjadi inspirasi bagi siapa pun bahwa konsistensi bisa mewujudkan impian besar.

Bagi muslim yang beriman, beribadah haji adalah cita-cita tertinggi dalam hidup. Haji puncak rukun Islam, menjadi penyempurna bagi keislaman seseorang.

Usia boleh renta. Tetapi, konsistensi Mbah Painah menabung 18 tahun terakhir telah mengantarkan nenek penjual daun pisang ini bisa berwukuf di Arafah dan menyelesaikan seluruh rukun hajinya tahun ini.

Mbah Painah sejak 35 tahun lalu setiap hari keliling hingga lima desa di Wonosobo untuk berjualan daun pisang.

Daun-daun pisang itu ia antarkan kepada pedagang pecel, bubur, pengusaha katering, atau warga yang sedang hajatan. Itu semua ia tempuh dengan berjalan kaki.

Ketika banyak manusia sedang terlelap, setengah dua dinihari ia telah bangun. Mempersiapkan daun pisang yang akan diantar ke pasar.

Usai Subuh, ia pulang. Lalu istirahat sebentar. Selanjutnya mempersiapkan daun-daun pisang yang akan diantarnya ke pelanggan yang telah order kepadanya.

Saat mengetahui warga Kelurahan Wonosobo Barat, Kecamatan/Kabupaten Wonosobo, banyak pelanggan dan tetangga yang menyarankan Mbah Painan latihan jalan kaki.

Namun, ia menjawab sederhana, “Saya sudah cukup jalan-jalannya jualan.”

Dan benarlah yang dia katakan. Semua prosesi hajinya, mulai tawaf, sa’i, hingga jalan melontar jumrah saat di Mina, bisa dia lakukan sendiri tanpa bantuan alat maupun orang lain.

Dari hasil berjualan pisang itulah ia membantu suaminya mencari nafkah. Selain itu kebutuhan sehari-hari, sebagiannya ia tabung.

“Paling hanya dua ratus ribu rupiah,” jawab Mbah Painah, saat ditanya berapa jumlah tabungan yang ia simpan untuk berhaji setiap bulannya.

Bagi sebagian orang uang sebesar itu kecil. Tapi, yang kecil itulah akhirnya mengantarkan Mbah Painah bisa bersujud di dua Tanah Haram.

Sebelum akhirnya menginjakkan kakinya ke Tanah Suci, nenek dari empat orang anak itu awalnya belum ada minat untuk berhaji. Namun, yang memaksa dirinya untuk mendaftar adalah suaminya.

READ  Amirul Hajj Kunjungi Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Makkah

Karena itulah, Mbah Painah dan suaminya mendaftar haji belasan tahun silam. Namun, umur tak ada yang tahu. Sebelum keinginannya terwujud untuk menyempurnakan rukun Islam kelima, suami Mbah Painah telah dipanggil oleh Allah SWT.

Akhirnya, nomor porsi suami dilimpahkan ke anak bungsunya, yang kini mendampingi Mbah Painah berhaji.

Ketika ditanya bagaimana rasanya pertama kali melihat Ka’bah, jawaban jamaah kloter 22 Embarkasi Yogyakarta itu kembali membuat suasana pecah.

“Senang, biasa-biasa saja,” jawanya, polos. Semua orang tertawa.

Tetapi di balik jawaban sederhana itu, mata Mbah Painah sesungguhnya menyimpan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Sebab, selama berada di depan Ka’bah, yang ia pikirkan bukan dirinya sendiri. Ia berdoa untuk anak-anaknya, cucu-cucunya, dan keluarga besarnya. “Saya memohon anak-anak dan cucu-cucu sehat walafiat,” katanya.

Di Arafah, tempat yang disebut sebagai puncak haji, doa yang dipanjatkannya juga sederhana. Ia berharap anak sulungnya menjadi anak yang patuh kepada orang tua.

Tak ada daftar panjang permintaan duniawi. Tak ada cita-cita mewah yang disebutkan. Hanya doa seorang ibu.

Doa yang mungkin selama puluhan tahun selalu ia bawa saat berjalan dari satu desa ke desa lainnya.

Kini, setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai dijalani, Mbah Painah sudah memikirkan satu hal yang sangat membumi: kembali berjualan.

Usaha daun pisangnya memang sengaja dihentikan sementara selama ia berada di Tanah Suci. Namun begitu pulang ke Indonesia, ia berencana kembali menyusuri kampung-kampung seperti biasa.

Kembali mengantar daun pesanan pelanggan. Kembali berjalan kaki. Kembali bekerja.

Ketika ditanya apa harapannya setelah pulang berhaji dan menyandang gelar hajjah, Mbah Painah sempat menjawab singkat sambil tertawa.

“Kaya,” jawabnya, singkat. Semua yang mendengar langsung tertawa.

Lalu ia menambahkan kalimat yang mungkin menjadi rahasia kebahagiaan hidupnya selama ini. “Yang penting kaya (dan) sehat,” imbuhnya.

Dan mungkin memang itulah kekayaan yang sesungguhnya. Bagi Mbah Painah, esehatan, keluarga, dan kesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci adalah rezeki terbesar yang telah Allah berikan.

Dari langkah-langkah kecil di jalan desa, Allah akhirnya membawanya sampai ke depan Ka’bah. Allah selalu menyiapkan jalan bagi hamba-Nya ke Baitullah, dan Painah menemukan jalannya melalui daun pisang, dagangannya.

(Penulis: Hari Setiawan/Satukanal.com)