Satukanal.com, Jeddah – Penyelenggaraan ibadah haji 1446 H/2026 M telah lebih dari setengah perjalanan. Fase puncak haji yang paling krusial di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) telah terlewati.
Tetapi, jajaran Amirul Hajj sebagai delegasi resmi Misi Haji Indonesia memberikan sejumlah catatan atas penyelenggaraan haji tahun ini kepada Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI sebagai otoritas haji di Indonesia.
Berbagai catatan itu disampaikan Sekretaris Amirul Hajj Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, dalam Exit Meeting Amirul Hajj di Kantor Urusan Haji (KUH) di Jeddah, Sabtu 6 Juni 2026.
Berikut ini rangkuman catatan penting Amirul Hajj atas penyelenggaraan ibadah haji 2026:
1. Layanan Dasar
Layanan dasar jamaah haji, seperti akomodasi, transportasi, konsumsi, dan layanan kesehatan perlu terus ditingkatkan, walaupun tahun ini sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
2. Layanan Kesehatan
Terkait layanan kesehatan, Amirul Hajj menilai perlu pola layanan yang lebig efektif dan cepat.
Menurut Ilfi, sistem pelayanan kesehatan melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) masih memerlukan perhatian khusus.
Selain membutuhkan biaya besar, alur pelayanan bagi jamaah yang sakit dinilai cukup panjang karena harus melalui klinik satelit sebelum dirujuk ke KKHI.
Setelah itu, pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan harus dirujuk kembali ke rumah sakit mitra yang ditunjuk Pemerintah Arab Saudi karena KKHI hanya melayani rawat jalan.
“Ini menjadi salah satu catatan penting agar pelayanan kesehatan jemaah ke depan dapat lebih efektif dan memberikan kemudahan bagi jemaah yang membutuhkan penanganan medis,” kata Ilfie.
3. Layanan Armuzna
Selain layanan kesehatan, Amirul Hajj juga menyoroti pelaksanaan layanan di Armuzna, khususnya terkait kapasitas tenda di Mina yang semakin terbatas seiring bertambahnya jumlah jamaah haji Indonesia setiap tahun.
Menurut Ilfi, diperlukan strategi dan skema baru agar jemaah tetap mendapatkan pelayanan yang optimal selama berada di Armuzna, termasuk mengantisipasi keterlambatan transportasi bus yang masih terjadi di sejumlah sektor.
“Karena luas Mina tidak bertambah, sementara jumlah jamaah terus meningkat, maka diperlukan strategi yang lebih baik agar jamaah dapat terlayani dengan baik mulai dari Arafah, Muzdalifah hingga Mina,” ujarnya.
4. Mitigasi Jamaah Terpisah dari Rombongan
Banyaknya kasus jamaah yang terpisah di rombongan juga perlu dimitigasi dengan lebih baik oleh Kemenhaj RI.
5. Layanan Lansia dan Disabilitas Perlu Perhatian Tinggi
Pelayanan kepada jamaah lanjut usia (lansia) dan disabilitas juga harus menjadi perhatian penting pada pelayanan haji tahun depan. Sebab, jumlah jamaha lansia sangat tinggi.
Menurut Ilfi, layanan pendampingan dan penyediaan jasa dorong kursi roda perlu terus diperkuat, baik saat umrah wajib, tawaf ifadah, tawaf wada, maupun setelah pelaksanaan Armuzna.
6. Pelayanan yang Ramah Lingkungan
Amirul Hajj menilai juga menilai penting untuk membangun desain pelayanan haji yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu langkah yang diapresiasi adalah pembagian tumbler kepada seluruh jamaah Indonesia saat berada di Armuzna untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
Namun demikian, Ilfi menilai upaya tersebut perlu didukung dengan penyediaan fasilitas air minum berupa dispenser melalui kerja sama dengan syarikah dan Pemerintah Arab Saudi.
“Dengan adanya dispenser air minum, tumbler yang diberikan kepada jemaah dapat digunakan secara maksimal sehingga mampu mengurangi sampah plastik yang menjadi perhatian dunia,” katanya.
7. Kuantitas Toilet
Amirul Hajj menilai, Indonesia perlu mendesak Arab Saudi untuk menyediakan toilet yang lebih banyak, khususnya bagi jamaah perempuan.
Menurut Ilfi, jumlah jemaah perempuan Indonesia saat ini lebih banyak dibandingkan laki-laki sehingga memerlukan perhatian khusus dalam penyediaan fasilitas dasar.
Pelayanan haji ke depan oleh Kemenhaj RI harus lebih ramah pada golongan rentan (lansia, disabilitas, perempuan) serta lebih manusiawi.
8. Perkecil Angka Kematian Jamaah
Amirul Hajj juga terus mendorong agar jumlah kematian jamaah haji terus diperkecil, meski tahun ini sudah sangat menurun dibandingkan tahun lalu.
“Semoga seluruh jemaah haji Indonesia dapat kembali ke tanah air dengan selamat dan sehat. Berbagai risiko yang ada harus terus kita mitigasi agar pelayanan kesehatan jamaah semakin baik di masa mendatang,” ujar Ilfi.
Sementara itu, Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf menyatakan, seluruh catatan Amirul Hajj akan menjadi bahan perbaikan layanan haji tahun depan.
Dalam kesempatan itu, dia juga menyampaikan terima kasih kepada para media Indonesia peliput haji di Arab Saudi karena telah memberitakan berbagai peningkatan layanan haji tahun ini oleh pemerintah.
“Atas nama Kementerian Haji dan PPIH, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman media yang telah menginformasikan berbagai kondisi dan perkembangan di Tanah Suci.
“Kehadiran media membantu keluarga jamaah di tanah air mendapatkan informasi yang benar dan menenangkan di tengah maraknya informasi yang belum tentu jelas kebenarannya di media sosial,” ujar menteri yang biasa disapa Gus Irfan ini.
(Penulis: Hari Setiawan/Satukanal.com)






