ADV

Lantik Forum Komunikasi Pesantren dan Guru Ngaji Jember, Gus Fawait: Pesantren Benteng Akhlak Bangsa!

×

Lantik Forum Komunikasi Pesantren dan Guru Ngaji Jember, Gus Fawait: Pesantren Benteng Akhlak Bangsa!

Sebarkan artikel ini
Bupati Jember berbicara dengan guru ngaji di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa (16/6/2026). (Foto: Teamwork)
Bupati Jember berbicara dengan guru ngaji di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa (16/6/2026). (Foto: Teamwork)

Satukanal.com, Jember – Pemerintah Kabupaten Jember melantik Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Guru Ngaji di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa (16/6/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan para pengasuh pondok pesantren, guru ngaji, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan jajaran Pemkab Jember dalam satu forum komunikasi.

Pelantikan forum itu dihadiri Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait bersama perwakilan PCNU Jember, PCNU Kencong, Muhammadiyah, LDII, PHDI, Musyawarah Antar Gereja, serta para kiai, gus, lora, dan tokoh lintas agama.

Dalam forum tersebut, peserta mengulas berbagai persoalan kebangsaan, pembangunan daerah, hingga perkembangan ekonomi nasional.

Diskusi berlangsung sebagai ruang bertukar pandangan antara pemerintah dan tokoh agama.

Gus Fawait menyampaikan bahwa pesantren dan guru ngaji memiliki peran strategis dalam membentuk karakter masyarakat di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.

“Hari ini pesantren dan guru ngaji menurut saya adalah benteng dari akhlak bangsa Indonesia,” kata Gus Fawait.

Menurutnya, masyarakat saat ini menghadapi arus informasi yang sangat cepat melalui media sosial.

READ  Gus'e Menyapa! Bupati Fawait Bakal Sambangi Warga Puger dan Wuluhan Jember Akhir Pekan Ini

Karena itu, kemampuan untuk menyaring informasi menjadi kebutuhan yang harus terus diperkuat.

“Ada upaya menggiring opini dan memengaruhi masyarakat untuk mencaci maki pemimpin kita. Ini harus disikapi dengan bijak,” ujarnya.

Gus Fawait juga mengajak masyarakat untuk melihat kondisi nasional berdasarkan data dan fakta.

Ia menilai sejumlah narasi yang berkembang di ruang digital tidak selalu sesuai dengan keadaan sebenarnya.

“Kalau berbicara nilai tukar rupiah, kondisi hari ini tidak bisa disamakan dengan tahun 1998. Faktanya tidak seperti itu,” ungkapnya.

Ia menyebut kondisi ekonomi nasional masih ditopang sejumlah indikator yang relatif kuat.

“Cadangan devisa kita masih sangat kuat, bahkan Indonesia kini menuju swasembada pangan,” tuturnya. (Sup)