Kanal Feature

Jeritan Senyap Ibu Hamil Risiko Tinggi di Pinggiran Jember

×

Jeritan Senyap Ibu Hamil Risiko Tinggi di Pinggiran Jember

Sebarkan artikel ini
Nur Asmi Safitri saat ditemui awak media di kediamannya, Senin (13/7/2026). (Foto: Dok/Teamwork)
Nur Asmi Safitri saat ditemui awak media di kediamannya, Senin (13/7/2026). (Foto: Dok/Teamwork)

Satukanal.com, Jember – Langkah kaki Nur Asmi Safitri belakangan ini terasa lebih berat. Bukan hanya karena usia kandungannya yang terus menua, melainkan ada beban kecemasan yang menggelayut erat di kepalanya.

Warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember ini divonis masuk dalam kategori ibu hamil risiko tinggi (Risti). Sebuah label medis yang seketika mengubah hari-harinya menjadi penuh kekhawatiran.

Bagi Asmi, mengandung buah hati seharusnya menjadi momen yang penuh kebahagiaan. Namun, tinggal di kawasan pinggiran Jember menghadirkan tantangan tersendiri yang tak mudah. Akses menuju fasilitas kesehatan terdekat, seperti Puskesmas atau Rumah Sakit Daerah (RSD), bukanlah perkara perjalanan satu-dua menit yang mulus.

Jarak yang membentang jauh diperparah dengan kondisi medan yang tidak ramah bagi seorang ibu yang tengah berbadan dua. Setiap guncangan di atas motor bukan sekadar ketidaknyamanan fisik, melainkan ancaman nyata bagi janin yang sedang dikandungnya.

“Saya takut keluar rumah untuk periksa, apalagi dinyatakan risiko tinggi,” bisik Asmi. Suaranya lirih, menyimpan kecemasan mendalam yang sulit ia sembunyikan.

READ  Semua Tercurahkan Ketika Gus Fawait Bersama Warga Sumberjambe

Ketakutan Asmi adalah cerminan dari realitas yang dihadapi banyak ibu hamil di pelosok desa. Di satu sisi, mereka diwajibkan untuk rutin memeriksakan kondisi demi keselamatan ibu dan anak. Di sisi lain, perjalanan menuju tempat pemeriksaan itu sendiri justru menjadi dadu yang dipertaruhkan di atas jalanan yang ekstrem.

Kondisi inilah yang memicu harapan besar dari Asmi dan warga setempat. Mereka tidak meminta fasilitas mewah, melainkan sebuah solusi yang lebih membumi: layanan medis yang bersedia menjemput bola.

Warga sangat berharap adanya program atau inovasi layanan kesehatan yang bisa datang langsung ke rumah-rumah. Khususnya bagi pasien darurat dan ibu hamil dengan status Risti yang rentan. Menghadirkan bidan atau dokter ke ruang tamu warga dinilai jauh lebih aman dan efektif, ketimbang memaksa para ibu bertaruh nyawa membelah jalanan rusak demi menuju Puskesmas. (Sup)