Warga Blitar Ubah Limbah Kayu Jadi Gamelan, Bernilai Ekonomi Tinggi | SATUKANAL.COM
3F559B44-4D70-4B1A-AFDE-97A2B3E42AFC-378f5ea2

Satukanal.com, Blitar – Sempat terpuruk, usaha pengelohan kayu limbah tak jalan selama 2 tahun, karena pandemi Covid -19. Lantas tidak membuat Heri Gunawan (39) Warga Desa Bumirejo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar putus asa.

Timbul dibenaknya saat itu, untuk  membuat usaha baru dengan bahan baku yang sama, yaitu memanfaatkan limbah kayu bekas yang menumpuk dirumahnya untuk diolah menjadi gamelan mainan anak-anak.

Gamelan mainan yang dibuatnya seperti Kenong, Kendang, serta alat musik mainan lainya yang dirasa memiliki nilai ekonomis tinggi dan tentunya menghasilkan cuan.

Hasil dari kerja kerasnya tersebut, Heri Gunawan mengaku setiap bulanya mendapatkan omset Rp 5 juta perbulan.

” Awalnya ya banyaknya kayu bekas pemotongan geraji ,sama orang tua saya hanya di bakar. Lalu saya berfikir supaya bisa di manfaatkan bagaimana, kemudian saya lihat di medsos lalu menemukan ide untuk membuat gamelan ,” kata Heri Gunawan Kamis (29/01/2022).

Baca Juga :  Bulan Imunisasi Nasional Anak 2022, Pemkot Blitar Target 6.594 Anak

Heri Gunawan menjelaskan jika alat musik mainan kendang dan kenong merupakan kerajinan yang banyak diminanti saat ini. Ia lalu pasarkan sendiri hasil kerajinan dar tanganya tersebut melalui online, dan ternyata mendapat responya positif.

Pemesan bukan hanya berasal dari seputaran wilayah Blitar saja, melainkan juga dari luar daerah seperti Surabaya dan Bali.

” Setelah saya naikan di medsos, paling banyak pesanan dari bali dan surabaya, setiap bulanya untuk bali sekitar seribu biji saya kirim,” ujarnya.

Baca Juga :  Ratusan Sapi di Kota Blitar Disuntik Vaksin PMK Tahap Dua

Untuk harga mainan gamelan dia patok dengan harga Rp 5 rupiah,  artinya jika setiap bulan laku terjual seribu mainan bisa mendapat pemasukan uang Rp 5 juta.

Kini usaha yang baru saja dirintisnya itu semakin maju. Banyaknya order dari pelanggan membuat Heri Gunawan kewalahan.

Karena itu ia kemudian memutuskan untuk mengajak para tetangganya  be kerja. ” Saat ini, banyak warga yang ikut kerja, semuanya sekitar sepuluh orang. Dulu hanya saya sendiri, karena setiap hari banyak pesanan jadi saya mengajak warga sekitar,” pungkasnya.

Penulis : Bahtiar

Editor : John