Wabah PMK Buat Penjualan Daging Sapi Di Pasar Oro-Oro Dowo Anjlok
Pasar Oro-Oro Dowo

Caption: Penjual daging di pasar (Foto: Istimewa)

Satukanal.com, Kota Malang – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak sapi rupanya membuat para konsumen merasa was-was.

Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya penjualan daging sapi, salah satunya di Pasar Oro-Oro Dowo, Kota Malang.

“Harga masih tetap, tapi penjualan mengalami penurunan hampir separuh. Biasanya banyak yang beli, sekarang turun, jarang ada yang beli,” ujar Toriq, salah seorang penjual daging sapi di Pasar Oro-oro Dowo, Selasa (31/5/2022).

Meskipun mengalami penurunan, Toriq yakin daging yang diperolehnya dari Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang itu bukanlah daging dari hewan yang terjangkit PMK.

Terlebih, pemerintah telah melarang sapi yang terkena PMK untuk diperjual belikan.

Baca Juga :  Kayutangan Street Style Menuai Pro Kontra, Walkot Malang: Orang Berekspresi Sah-sah Saja, Tapi…

Selain itu, setiap minggunya terdapat sidak di Pasar Oro-oro Dowo supaya tidak ditemukan penjual daging yang nakal.

“Nggak boleh dijual kalau daging sapi itu penyakitan, harus disembuhkan dulu baru bisa dipotong, karena pengaruh ke kualitas daging. Pemeriksaan (ke pasar) nggak mesti harinya, tapi pasti ngambil sampel daging yang dijual. Tapi di sini enggak ditemukan yang nakal, insyaallah benar-benar menjaga kualitas,” jelas Toriq.

Toriq pun menyebutkan ciri-ciri daging sapi yang masih bagus, supaya para konsumen tidak lagi merasa cemas.

Menurutnya, daging dengan kondisi berwarna putih menunjukkan kondisi sapi yang tidak sehat. Oleh karenanya, dianjurkan bagi konsumen untuk membeli daging yang masih berwarna merah.

Baca Juga :  Obati Kerinduan terhadap Makanan Jadul, The Shalimar Boutique Hotel Gelar ‘Tong Tong Night Market’

“Dari warna daging sapi itu sudah kelihatan. Mungkin kalau sapinya sakit, maka dagingnya warna putih, tapi kalau daging sapi warnanya merah itu berarti masih bagus, sehat,” tuturnya.

Tak dapat dipungkiri maraknya wabah PMK memang merugikan berbagai banyak pihak, mulai dari peternak, penual daging, hingga konsumen.

Oleh karena itu, Toriq berharap tidak ada pihak yang memanfaakan kondisi ini demi keuntungan pribadi, dengan menjualkan daging sapi yang terserang wabah PMK karena tak mau merugi.

“Mudah-mudahan jangan sampai ada oknum yang seperti itu, karena kasihan penjual dan pembelinya. Semoga sama-sama sadar dan bisa tertangani dengan cepat,” lanjut dia.

Pewarta: Lutfia
Editor: U Hadi