Tangan Kreatif Warga Kota Blitar Ini Sulap Serabut Kelapa Menjadi Beragam Alat Rumah Tangga | SATUKANAL.COM
Sugeng memiliki 13 tenaga kerja yang membantunya mengolah berbagai alat rumah tangga dari serabut kelapa (foto: Bahtiar/satukanal.com)

Sugeng memiliki 13 tenaga kerja yang membantunya mengolah berbagai alat rumah tangga dari serabut kelapa (foto: Bahtiar/satukanal.com)

Pria asal Kota Blitar menyulap limbah serabut kelapa menjadi kerajinan bernilai ekonomis tinggi. Bahkan, produk kerajinannya sudah diekspor ke Taiwan.

Satukanal.com  – Bahtiar

Kesibukan terlihat di rumah Sugeng Riyadi di Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar Senin (14/3/2022) siang.

Para pekerja menyerut atau menghaluskan serabut kelapa yang akan dipakai sebagai bahan sapu. Sabut kelapa yang sudah dihaluskan kemudian dirangkai menjadi sapu.

Sebelum dikemas, sapu berbahan sabut kelapa yang baru setengah jadi itu dijemur. Sedang, sisa-sisa sabut kelapa dari proses penghalusan diolah lagi menjadi bahan pot, keset, dan cocopeat atau media tanam. 

“Saya memiliki 13 pekerja. Sebagian pekerja mengerjakan pembuatan sapu di rumah,” ujar Sugeng kepada satukanal.com. 

Serabut ini bermula dari kupasan kelapa. Lazimnya, serabut ini sudah jadi limbah yang terbuang. Namun, kreativitas bisa menyulap serabut kelapa ini menjadi barang dengan nilai ekonomis tinggi.

Ya, tangan kreatif pria 30 tahun ini mengolah limbah sabut kelapa menjadi sapu, keset, pot bunga sampai media tanam cocopeat.

Bapak satu anak ini bisa memproduksi 10 ribu sapu dengan omzet mencapai Rp 70 juta per bulan. Bahkan, produksi sapu berbahan sabut kelapa milik Sugeng juga diekspor ke Taiwan.

Baca Juga :  Menjadi Salah Satu Obyek Vital Nasional, PG RMI Teken Kerjasama Keamanan dengan Polres Blitar

Sugeng  sudah 7 tahun menekuni bisnis ini. “Saya meneruskan usaha dari orang tua,” katanya.

Orang tua Sugeng menekuni usaha pengolahan sabut kelapa sekitar 15 tahun. Awalnya, orang tuanya hanya mengolah sabut kelapa untuk bahan sapu yang disetor ke pabrik.  “Lalu, saya mencoba mengolah sabut kelapa dan memproduksi kerajinan sendiri,” katanya.

Usaha kerajinan alat rumah tangga berbahan sabut kelapa khususnya sapu milik Sugeng berjalan lancar. Banyak pesanan datang, baik dari dalam kota dan luar kota seperti Tulungagung, Madura, Ponorogo, Madiun, Ngawi hingga Jakarta.

Dalam sebulan, permintaan sapu berbahan sabut kelapa di tempat Sugeng bisa mencapai 10 ribu biji.

“Pelanggan dari Jakarta ada yang mengekspor kerajinan sapu sabut kelapa saya ke Taiwan. Untuk ekspor baru berjalan tiga bulan ini,” ujarnya.

Baca Juga :  Masuk Agustus, Perajin Piala di Blitar Kebanjiran Orderan

Pelanggan dari Jakarta meminta sekitar 20 ribu – 30 ribu biji sapu untuk diekspor ke Taiwan. Tetapi, Sugeng hanya bisa memasok sekitar 10 ribu  biji sapu sebulan untuk diekspor ke Taiwan.

“Sapu yang dikirim masih setengah jadi, belum ada gagangnya,” ujarnya.

Sugeng menjual kerajinan sapu setengah jadi dengan harga mulai Rp3.200 per biji sampai Rp4.000 per biji. Sedang sapu yang sudah jadi dan siap pakai dijual dengan harga Rp7.500 per biji.

“Kalau omzet rata-rata sekitar Rp 70 juta per bulan,” ujarnya.

Selama pandemi Covid-19, usaha kerajinan alat rumah tangga berbahan sabut kelapa milik Sugeng tetap stabil. Ketika pandemi, produksi sapu memang sempat turun, tapi produksi kerajinan lain seperti pot bunga dan cocopeat justru naik drastis.

“Awal pandemi produksi pot bunga yang naik, saya sampai kewalahan melayani pesanan. Tapi, sekarang permintaan pot turun dan permintaan sapu kembali meningkat,” katanya. 

Editor : Danu S