Suka Duka Penjual Kembang Tabur, Bahagia Saat Jelang Ramadan, Tapi… | SATUKANAL.COM

Sumiyati di lapak kembang tabur miliknya.

Satukanal.com, Jombang – Menjelang bulan Ramadan, pedagang kembar tabur di depan Pasar Legi Jl RE Martadinata Jombang mulai bersemangat lagi.

Seperti Sumiyati, ia bersemangat bersiap menyambut konsumen yang biasanya selalu ramai menjelang bulan Ramadan.

Ia tetap semangat kendati penghasilannya berjualan kembar tabur tak sebanyak seperti sebelum pandemi Covid-19.

“Kalau pembeli pasti ada. Tapi dihitung-hitung sejak adanya Covid-19 ya menurun, biasanya kalau mau puasa ramai,” ucapnya, Sabtu (12/3/2022).

“Tapi kan penjual kembang tabur ini tidak cuma saya saja, di sebelah-sebelah saya juga jualannya sama,” lanjut dia.

Sumiyati melanjutkan, rerata ia bisa mendapatkan keuntungan bersih di kisaran Rp100 ribu. Jika menjelang bulan puasa, maka dalam sehari ia bisa mengantongi keuntungan Rp300 ribu.

“Memang pemasukannya segitu, tidak besarlah untuk ukuran pedagang. Tapi memang jualannya hanya kembang tabur,” katanya.

Sempat Gadaikan BPKB

Berjualan kembar tabur jelang bulan Ramadan memang menguntungkan. Namun bukan berarti usaha yang digeluti Sumiyati ini tanpa risiko.

Baca Juga :  Pangdam V Brawijaya Kunjungi Kodim 0809 Kediri, Beri Pesan Khusus Soal Penanganan Covid-19 dan PMK

Sumiyati bercerita, dirinya pada awal Covid-19 sempat menggadaikan BPKB sepada motor hanya untuk memutar uang modal.

Di mana kala itu, ia benar-benar kekurangan uang untuk membeli persediaan kembang tabur yang ia jajakan.

“Awal-awal ada Covid-19 itu omzet sempat turun 50 persen, jadi jarang ada yang beli bunga. Saya sampai gadai BPKB tiga buat memenuhi kebutuhan beli kembang sama biaya hidup,” ungkapnya.

Wanita paruh baya asal Kebontemu, Jombang ini, mengaku mempersiapkan dana paling sedikit Rp3 juta untuk kulakan kembang.

Kembang tabur yang diambil berasal dari beberapa daerah seperti Blitar, Nganjuk, Pasuruan dan Madiun.

Kembang tabur yang dijual pun beragam jenis, mulai mawar, melati, kenanga, sedap malam, kantil, pandan.

Kendati sempat mengalami masalah finansial akibat pandemi Covid-19, Sumiyati bersyukur masih tetap bisa berjualan.

Baca Juga :  Kata Polresta Mojokerto Soal Anggotanya yang Dikabarkan Digerebek Warga Gegara Selingkuh dengan Istri Tentara

“Sempat turun dulu. Sekarang pun yah, kalau mau dibandingkan dengan sebelum Covid-19 sebenarnya masih turun. Tapi Alhamdulillah tidak separah pas awal Covid-19,” bebernya.

Senada dengan Sumiyati, pedagang lain yakni Sampir Basuki mengatakan, memang penjualan kembang tabur masih belum kembali normal.

“Wah dulu itu pas pertama pandemi sepi sekali, apalagi kalau pemasukan dari jualan kembang kan tidak menentu, kadang bisa sampai Rp100 ribu per hari, kadang di bawah itu,” jelas Sampir.

Untuk kondisi sekarang, pria asal Nganjuk ini mengaku sedikit lega karena sedikit demi sedikit penjualan kembang tabur kembali ramai. Meskipun, ia sadar tetap ada proses sampai kembali ke situasi normal.

“Apalagi sekarang ada Omicron itu, berarti Covid-19 kan masih ada. Tapi yah semoga cepat selesai lah. Kasian pedagang kecil, dicekik kondisi ekonomi yah sudah bingung,” pungkas dia.

Pewarta: Anggit Pujie Widodo

Editor: U Hadi