Siasati Harga Cabai Mahal, Produsen Sambel Pecel Terpaksa Kurangi Takaran Cabai | SATUKANAL.COM

Satukanal.com, Blitar – Mahalnya harga cabai yang terus naik beberapa hari terahir membuat produsen sambal pecel di Kota Blitar kelimpungan. Untuk mensiasatinya, para produsen sambal pecel harus mencari cara, mulai menaikkan harga, mengurangi takaran cabai, sampai menggunakan stok cabai kering agar tetap bisa produksi dan tidak merugi di saat harga cabai rawit mahal tembus Rp60.000 per kilogram.

Salah satunya, seperti yang dilakukan Binti Khoiriyah, produsen sambal pecel di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, ini. Sejak dua pekan ini, ibu tiga anak itu terpaksa menaikkan harga jual sambal pecelnya dampak kenaikan harga cabai rawit.

Sebelumnya, ia menjual sambel pecel dengan harga Rp36.000 per kilogram. Sekarang, setelah harga cabai rawit mahal, ia menjual sambal pecel dengan harga Rp 38.000 per kilogram.

“Agar tidak merugi, saya menaikkan harga sambel pecel sekitar Rp2.000 per kilogram. Sebelumnya harga Rp36.000 per kilogram, sekarang jadi Rp 38.000 per kilogram,” kata Binti, Jumat (3/6/2022).

Baca Juga :  Sambut HUT RI Ke 77 Tahun, Pemkot Blitar Menggelar Lomba Baris Berbaris Tingkat SD

Sekadar diketahui, selain kacang, cabai rawit menjadi bahan utama untuk memproduksi sambal pecel. Wajar, produsen sambal pecel kelimpungan saat harga cabai rawit mahal. Tiap hari, Binti membutuhkan tujuh sampai delapan kilogram cabai rawit untuk memproduksi sekitar setengah kuintal sambal pecel.

Jika harga cabai rawit sekarang Rp60.000 per kilogram, maka ia harus mengeluarkan uang sekitar Rp420.000 sampai Rp500.000 hanya untuk membeli cabai rawit.

“Makanya, produsen sambal pecel agak pusing kalau harga cabai rawit. Karena harus membagi uang untuk beli cabai dan biaya produksi lain,” ujarnya.

Selain menaikkan harga jual sambal pecel, Binti juga mengurangi takaran cabai untuk memproduksi sambal pecel.Takaran normalnya, tiap 10 kilogram kacang dibutuhkan 1,5 kilogram cabai rawit untuk produksi sambal pecel. Sekarang, ia mengurangi takaran cabai rawit kurang dari satu kilogram untuk 10 kilogram kacang.

Baca Juga :  Bulan Imunisasi Nasional Anak 2022, Pemkot Blitar Target 6.594 Anak

“Takaran cabai saya kurangi. Kalau biasanya tiap 10 kilogram kacang dibutuhkan 1,5 kilogram cabai, sekarang tidak sampai satu kilogram. Pedasnya berkurang, tapi pelanggan menyadari karena harga cabai mahal,” katanya.

Setiap hari, Binti rata-rata memproduksi setengah kuintal sambal pecel. Ia melayani pesanan dari lokal Blitar sampai Kalimantan.

“Tiap seminggu sekali kirim ke Kalimantan sekitar 90 kilogram sambal pecel. Lalu kirim ke Hongkong sekitar 10 kilogram tiap minggu,” ujarnya.

Menurutnya, di saat harga cabai mahal, permintaan sambal pecel justru meningkat. Masyarakat memilih beli sambal pecel dari pada repot membuat sambal sendiri saat harga cabai mahal.

“Bagi produsen, saat harga cabai mahal, untung dari produksi sambal pecel sebenarnya menipis. Karena biaya produksi terutama untuk beli cabai membengkak. Tapi, kami tetap produksi selama tidak merugi,” tutupnya.

 

 

 

 

Pewarta: Bahtiar
Editor: Ubaidhillah