Ruwatan Jatisumber, Tradisi Tolak Bala Warga Jelang Ramadan | SATUKANAL.COM
Ruwatan Jatisumber

Prosesi ruwatan di Dusun Jatisumber Mojokerto, Kamis (17/3/2022).

Satukanal.com, Mojokerto – Warga Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menggelar ruwatan dusun, Kamis (17/3/2022).

Ruwatan dusun ini merupakan agenda wajib yang dilakukan setiap tahunnya, yang diadakan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.

Tradisi ini dimaksudkan sebagai upaya membersihkan diri dan harta dengan melakukan sedekah bumi, sebagai wujud ungkapan syukur kepada tuhan.

Kepala Dusun Jatisumber, Wawan Harianto (41) mengatakan, ruwatan dusun ini adalah tradisi untuk menghormati para pendahulu atau ‘seng mbabat alas’ kampung.

Ruwatan di Dusun Jatisumber dilakukan dengan cara membawa sedekah bumi, di antara sayur-sayuran, buah-buahan, hasil pertanian, nasi tumpeng raksasa, dan jajan pasar.

Puncak acara dari tradisi ini adalah berkumpul bersama di belakang masjid dusun.

Di masjid dusun ini terdapat punden. Konon, di sinilah makam Mbah Sumber Sari berada, tokoh yang membuka hutan yang kini menjadi Dusun Jatisumber.

Dalam tradisi ruwatan ini, di punden akan ada pemuka dari beberapa kepercayaan mulai Islam, Hindu, dan penghayat kepercayaan.

Baca Juga :  Terkendala Zonasi, 28 Siswa SDN Ngingasrembyong Gagal Masuk SMP Negeri di Kota Mojokerto

Setelah pembacaan doa, akan dilanjutkan dengan acara ‘purakan tumpeng’ yaitu memakan bersama hasil bumi yang telah dibawa oleh masing-masing RT.

Kegiatan ini menjadi momen yang paling ditunggu, karena warga akan saling berebut tumpeng, buah, dan hasil bumi lainnya. Suasana hiruk pikuk telah menjadi pemandangan biasa.

“Sebelum pandemi, kami laksanakan ruwatan dusun ini selama empat hari. Hari pertama kirab budaya start Jatisumber Selatan sampai Punden Jatisumber. Kedua khataman Quran di setiap musala. Ketiga, ruwatan dusun di Punden Jatisumber. Terahir, gebyar wayang atau macopat,” tutur Wawan.

Menurut Wawan, kirab budaya diarak mengelilingi dusun mulai dari pagi hingga siang hari.

Biasanya arak-arakan dilaksanakan dengan iringan bantengan, kuda lumping, musik patrol, dan tari kreativitas dari warga sendiri.

Dalam kegiatan ini setiap RT wajib mengeluarkan sedekah bumi, dan perwakilannya untuk mengikuti tradisi.

Beragam usia turut serta di dalamnya, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Uniknya mereka semua akan menggunakan kostum kebaya atau baju peranakan Jawa.

Baca Juga :  Diduga Tilap Dana CSR dan APBD, 2 Pejabat Pemkot Diperiksa Kejari Kota Mojokerto

Tempat Berkumpul Prajurit Majapahit

Berdasarkan cerita turun-temurun yang diyakini warga, kata Wawan, Punden Jatisumber ini dulunya merupakan tempat berkumpulnya prajurit-prajurit Majapahit.

Selain itu, air sumber yang ada dimanfaatkan untuk penjamasan pusaka.

“Di sini digunakan sebagai pengembangan atau berkumpulnya para prajurit-prajurit Majapahit, sekaligus menyucikan pusaka-pusaka prajurit Majapahit,” sebutnya.

Mulanya tradisi ini sarat akan pengaruh dari Hindu-Budha, serta aliran kepercayaan.

Namun agama Islam perlahan mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman, sehingga budaya Islam dalam tradisi ini sangat menonjol.

“Sebelum tradisi ruwatan dusun ini dilaksanakan, terdapat beberapa rangkaian acara yang pertama sebagai pembukaan akan dilakukan pengajian, serta kirim doa untuk para ahli kubur dari warga dusun,” ungkap Wawan.

“Hari kedua akan dilakukan tradisi ruwat dusun, dan malamnya akan diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai penutupnya,” tuturnya.

Pewarta: Alawi

Editor: U Hadi