Rayakan Seabad ‘Si Binatang Jalang’, Berbagai Komunitas Di Kota Malang Gelar Sumbang Suara Sang Bohemian | SATUKANAL.COM
Malang

Caption: Pelaksanaan kegiatan Sumbang Suara Bohemian di Kota Malang, Sabtu (23/7/2022). Doc: Lutfia/Satukanal.com

Satukanal.com, Kota Malang – Chairil Anwar merupakan sastrawan bohemian yang hidup sejak 26 Juli 1922. Oleh teman-temanya, Chairil dijuluki sebagai ‘Si Binatang Jalang’.

Dengan gayanya yang liar, nyentrik, dan terkesan berani, Chairil akhirnya didapuk menjadi pelopor angkatan 45. Sebab menolak propaganda yang dibuat oleh Jepang pada tahun 1943 yang membentuk Keimin Bunka Shidoso atau Pusat Kebudayaan.

Puisi Chairil Anwar bukanlah puisi picisan yang lahir tanpa dasar, dan mengesampingkan gagasan maupun realita yang ada.

Dikenal sebagai penyair bohemian, menjadikan karya Chairil dikenal mengandung banyak gagasan revolusioner yang beberapa syairnya memancarkan sinar patriotisme.

Dari sejarah panjang perjalanan syair Chairil Anwar, 2022 ini menjadi tahun diperingatinya satu abad Chairil Anwar.

Tak ingin melewatkan momen tersebut, beberapa komunitas di Kota Malang seperti Sabtu Membaca, Pelangi Sastra, Safari Literasi, dan komunitas lainnya, turut memperingati satu abadnya dengan tajuk kegiatan ‘Sumbang Suara Sang Bohemian: Dedikasi Liar untuk Chairil Anwar’ di Taman Slamet pada Sabtu (23/7/2022).

“Chairil Anwar disebut sebagai penyair bohemian, dia hidup di jalanan, di tempat yang menginspirasi dia seperti di pasar, tempat pelacuran, dll. Itu yang menjadi karya-karyanya mengena, enggak tinggal di menara gading,” ujar salah satu pencetus Sabtu Membaca, Edi Pendek Harianto.

Menurut pria yang akrab dengan panggilan Cak Pendek, salah satu perubahan dan gaya dari kepenyairan Chairil Anwar ialah anti terhadap kemapanan.

“Dia kalau membuat karya benar-benar tahu masalahnya, diambil dari kondisi di saat itu. Selain itu, yang mendahului di jalanan itu Chairil Anwar makanya dia dijadikan barometer,” lanjut Cak Pendek.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, berbagai individu hadir untuk melakukan orasi, pembacaan puisi-puisi Chairil Anwar, hingga performing art.

Performing art dilakukan oleh Ambawani yang terinspirasi dari sajak Chairil Anwar bertajuk Derai-Derai Cemara, dengan diiringi petikan gitar dari Kak Fey.

Kalimat ‘hidup hanya menunda kekalahan’ di sajak Derai-Derai Cemara, bagi Ambawani merupakan fase putus asa yang dialami oleh Chairil Anwar.

Namun meskipun Chairil terkesan pasrah dengan realita yang membuatnya kalah, ia tetap melahirkan karya yang luar biasa.

“Puisi itu merupakan peralanan hidup Chairil Anwar. Ada satu sisi dia ingin mencapai sesuatu tapi kalah dari realita. Tapi sekalipun makna dalam puisi tersebut tentang pasrah dengan realita, dia tetap melahirkan karya,” beber Ambawani.

Pewarta: Lutfia
Editor: U Hadi

Advertisements