Pilu Warga Yang Rumahnya Terancam Gusur Akibat Sterilisasi Jalur KA Malang Kotalama-Jagalan | SATUKANAL.COM
Malang

Caption: Kondisi wilayah pemukiman warga di jalur KA Malang Kotalama-Jagalan-Depo Pertamina (Foto: Lutfia/Satukanal.com)

Satukanal.com, Kota Malang – Kabar mengenai rencana PT KAI melakukan sterilisasi pada jalur KA Malang Kotalama-Jagalan-Depo Pertamina rupanya telah didengar oleh warga.

Meskipun belum pasti kapan sterilisasi dilaksanakan, namun berbagai respon telah ditunjukkan oleh warga, terutama di hadapan perangkat wilayah setempat.

Salah satunya kepada Ketua RT07/RW07, Muhammad Suli (52). Ia menyaksikan secara langsung beragam respon warga usai muncul kabar mengenai rencana sterilisasi tersebut.

Dikatakan Suli, kebanyakan warga merasa kecewa dan khawatir. Sebab apabila sterilisasi benar-benar dilakukan, warga jelas bingung harus bermukim di mana.

Kendati menyadari secara hukum masyarakat keliru, namun warga tetap mengharapkan PT KAI lebih manusiawi apabila nanti benar-benar akan menggusur warga.

Baca Juga :  Malang Creative Center Ditarget Beroperasi Awal Tahun 2023

“Warga banyak yang kecewa, ada yang nangis, cuma saya selaku ketua RT maunya minta jalan yang terbaik. Saya minta kemanusiaannya, karena kalau masalah hukum memang sini (warga) keliru,” ujar Suli, Sabtu (25/6/2022).

Menurut Suli, banyak warga yang khawatir dan bertanya-tanya kemana akan tinggal apabila dilakukan sterilisasi di jalur KA Malang Kotalama-Jagalan-Depo Pertamina

Untuk diketahui, setidaknya ada 110 bangunan di RT09/RW07 yang bakal terimbas sterilisasi, meskipun hingga kini masih belum dapat dipastikan waktu pelaksanaannya.

“Kasihan nanti karena warga banyak yang nangis ke saya, ‘seumpama terjadi gini-gini (pembongkaran) gimana, saya tinggal di mana’,” ucap Suli menirukan keluh kesah warga.

Sementara warga sendiri diperkirakan sudah puluhan tahun lamanya menempati lahan milik PT KAI tersebut, yang oleh warga kemudian digunakan sebagai pemukiman.

Baca Juga :  Kantor Imigrasi Malang Beri Layanan ‘Paspor Masuk Desa’ untuk Peringati Hari Dharma Karya Dhika ke-77

Bahkan Suli sendiri sudah lahir dan tinggal di kawasan tersebut sejak tahun 1970-an.

Adapun dari PT KAI, disebut Suli, sempat mewacanakan bakal pemberikan ganti rugi bagi warga terdampak. Namun kabar tersebut masih belum dapat dipastikan kebenarannya.

“Untuk penggantiannya saya dengar waktu rapat itu per meternya Rp250 ribu untuk bangunan permanen, terus yang semipermanen Rp200 ribu per meter,” papar Suli.

Kini warga masih menunggu pembentukan tim terpadu untuk melakukan sosialisasi, dan pembicaraan kesepakatan diharapkan tidak akan membebani kedua belah pihak.

Pewarta: Lutfia
Editor: U Hadi