Perseteruan Kebokicak Dan Surontanu, Kisah 2 Teman Seperguruan Beda Prinsip
May 27, 2022
Surontanu

Caption: Budayawan Jombang Nasrul Illah atau Cak Nas (Anggit/Satukanal.com)

Satukanal.com, Kabupaten Jombang – Kisah Kebokicak mulai dari belajar ilmu kanuragan hingga pertarungannya dengan Surontanu melegenda di masyarakat Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kebokicak dengan Surontanu sendiri sebenarnya masih ada hubungan keluarga.

Cerita perjalanan Kebokicak dalam versi sejarah memang layak untuk terus didengar.

Budayawan Jombang, Nasrul Illah mengatakan, cerita Kebokicak di akhir hayatnya yakni kematian akibat pertempurannya dengan Surontanu.

Menurut Nasrul Illah, terdapat dua versi cerita besar yang sering keluar-masuk telinga masyarakat. Pertama dari versi budaya, dan kedua versi santri.

Terdapat perbedaan dari kedua versi cerita ini, namun akhir ceritanya tetap sama, yakni mati.

“Perbedaan prinsip antara Kebokicak dengan Surontanu yang memicu keduanya berperang, hingga merenggut nyawa kedua pendekar sakti ini,” ucap Nasrul Illah, Jumat (29/4/2022).

Dari cerita versi budaya, pria yang akrab disapa Cak Nas ini mengatakan, terjadinya gesekan antara Kebokicak dengan Surontanu dikarenakan pagebluk yang terjadi di Padepokan Ki Sumoyono, tempat mereka berdua menempa kesaktian.

Baca Juga :  Keutamaan Surat Al-Ikhlas, Kerap Membacanya akan Mengundang Cinta Allah

“Penyebab dari pagebluk itu karena banteng milik Surontanu yang dirasuki dua jin buaya penjaga Sungai Brantas. Nah di sana Kebokicak mendapatkan tugas untuk mengatasi itu,” tutur Cak Nas.

Tapi hal tersebut malah terang-terangan ditolak oleh Surontanu, yang merasa ia telah bersumpah untuk bisa sehidup semati dengan bantengnya tersebut.

Surontanu bersikeras karena sebelumnya ia telah bersumpah akan hal itu.

“Karena Surontanu ini ngotot untuk mempertahankan sumpahnya, meskipun bagi sang guru sumpahnya itu dianggap sebuah kesalahan. Hingga pada akhirnya, karena kejadian itu, Surontanu memilih untuk melarikan diri,” papar Cak Nas.

Hal tersebut bertentangan dengan tugas Kebokicak untuk menyelamatkan rakyat dari ancaman pagebluk, yang dianggap lebih berbahaya ke depannya.

Lalu, Cak Nas melanjutkan, ada versi kedua yang juga dipercaya yakni versi santri. Diceritakan, dalam versi ini perseteruan Kebokicak dan Surontanu dilandasi karena agama.

Kala itu, kata Cak Nas, Kebokicak memaksa Surontanu untuk memeluk agama Islam, namun Surontanu menolak.

Baca Juga :  BPCB Jatim: Perlu Ekskavasi Lanjutan di Situs Pandegong

“Versi Santri ini dilatar belakangi oleh agama. Karena percekcokan itu kemudian memunculkan gesekan dan keduanya berperang. Dalam perang ini, Banteng Tracak Kencono milik Surontanu juga terlibat, dipakai sebagai alat perang bagi Surontanu,” sebut Cak Nas.

Dari kedua versi cerita tersebut, lanjut Cak Nas, memiliki dampak yang luar biasa khususnya untuk Kabupaten Jombang.

Dirinya mencontohkan mengenai kemunculan nama-nama desa di Kabupaten Jombang yang banyak terinspirasi dari kisah Kebokicak dan Surontanu.

Seperti daerah Parimono, Jombang, yang diduga sebagai tempat perang pertama kedua pendekar sakti ini.

“Jika ditotal itu ada dua puluh lebih nama desa yang menggunakan dasaran Kebokicak sebagai asal-usul pertamanya,” bebernya.

Cak Nas melanjutkan, kisah Kebokicak ini disebutkan bukan lagi sebuah legenda, melainkan sebuah fakta dengan banyaknya bukti jika pria sakti era tersebut ini memang benar adanya.

Pewarta: Anggit Pujie Widodo
Editor: U Hadi