Pengemis Anak Di Mojokerto, Sehari Dapat Rp100 Ribu, Uang Jajan Hanya Rp1000 | SATUKANAL.COM
pengemis anak

Pengemis anak di makam Troloyo, Mojokerto. (foto: Alawi/satukanal.com)

Ironi kehidupan pengemis anak di Mojokerto. Masih 5-6 tahunan, bocah ini berburu lembaran rupiah. Demi menghidupi keluarga.

satukanal.com, Mojokerto– Muhammad Alawi

“Minta sedekahnya pak…” Suaranya lirih. Gadis cilik itu memegang bak plastik tempat nasi berwarna hijau. Matanya sayu. Menyorot peziarah yang baru keluar dari makam Syech Jumadil Kubro, Troloyo, Kabupaten Mojokerto.

Seorang pria paruh baya sekilas menatap gadis cilik itu, sembari merogoh kantong celana. Lembaran kertas Rp2 ribu diulurkan. Disusul sejumlah  peziarah lainnya. Jumlahnya beragam. Dari Rp2 ribu hingga Rp10 ribu.

“Semoga bapak dan ibu dilancarkan rejekinya dan dikabulkan hajatnya, ” ungkapnya berulang-ulang tiap kali lembaran uang masuk di bak plastik.

Wajahnya tampak polos. Rambut sebahu. Mengenakan baju bergambar kartun Frozen. “Olivia.” Gadis yang mengaku berumur 6 tahun menyebutkan namanya.

Ternyata, Olivia masih aktif sekolah. Duduk di bangku kelas 1 SDN Sentonerejo. Gedung sekolah terletak di depan makam Troloyo.

Ketika kami bersua pada Rabu (26/1/2022) siang itu, dia juga baru pulang sekolah. “Ini pulang duluan soalnya gurunya sedang rapat, ganti baju baru ke sini, ” ujar Olivia.

Mengemis karena Diajak Ibu

Olivia terpaksa mengemis. Kebiasaan yang menurun dari ibunya. “Sejak kecil sudah diajak-ajak ibu untuk minta-minta, ” ucapnya polos. Aktivitasnya di sekitar makam Troloyo.

Dalam sehari, Olivia mengaku mendapatkan minimal Rp100 ribu. Akhir pekan bisa sampai Rp300 ribu, karena ramai peziarah. Berapapun penghasilannya, semua disetorkan pada ibundanya.

Baca Juga :  Melihat Candi Brahu, Candi yang Diklaim Tertua di Jawa Timur

Semua tak lepas dari persoalan ekonomi. Bapaknya buruh bangunan. Penghasilannya minim. Maka, Olivia dan ibunya mengemis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan sekolah. Sementara, Olivia hanya diberi uang jajan sekolah. “Kalau mau berangkat sekolah diberi seribu oleh ibu, ” terangya.

Sementara itu, Fira yang juga meminta-minta di lokasi sama, justru lebih muda dari Olivia. Usianya 5 tahun. Fira sekolah di TK A dekat makam Troloyo. Badan Fira lebih gemuk dari Olivia.

Ironisnya,  Fira merasa senang, karena banyak memiliki uang dari hasil mengemis.”Senang, banyak uang pak. Bisa jajan macem-macem, ” ungkap Fira.

Fira setiap hari bermain sambil mengemis di daerah makam Troloyo. “Uangnya saya kasihkan ke ibu, ” bebernya, sambil tersenyum polos.

Eksploitasi Anak Secara Ekonomi

Belum ada data secara pasti berapa jumlah anak yang dipekerjakan orang tuanya sebagai pengemis. Data Statistik BPS 2017 hanya menyebut, jumlah pengemis yang terdata di Kabupaten Mojokerto, ada 108 orang. Tak ada spesifikasi usia di situ.

Tindakan orangtua yang ‘mempekerjakan’ anak sebagai pengemis digolongkan sebagai tindakan eksploitasi anak secara ekonomi.  Menurut Heru Ramadhon, anggota APHTN/HAN Jatim (Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara/Hukum Administrasi Negara), eksploitasi anak untuk mengemis ini tak bisa dibenarkan. UU 35/2014 tentang Perubahan Atas UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 59 ayat (2) huruf d, memberikan perlindungan khusus kepada anak.

Baca Juga :  Razia Balap Liar, Puluhan Motor Diamankan Polres Mojokerto

“Dari perspektif hukum harus mencerminkan edukasi hukum yang luas guna dalam membangun optik kesadaran hukum yang mencirikan kedudukan dan tanggung jawab masyarakat terhadap perlindungan anak di lingkungannya masing-masing,” ungkap Heru saat dihubungi Satukanal.com, Rabu (26/1/2022).

Dalam hal perlindungan khusus bagi anak, menurut Heru, dapat dilakukan melalui pemberian bantuan sosial bagi anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, ataupun memberikan bentuk lain bantuan yang dipandang menguntungkan dan bermanfaat untuk anak.

Penyimpangan terhadap eksploitasi ekonomi terhadap anak, tentu saja itu tidak boleh dibiarkan terus berlanjut dan dibiarkan begitu saja. Diperlukan langkah-langkah yang sistematis dari pemerintah setempat, perseorangan, lembaga perlindungan anak, lembaga kesejahteraan sosial, organisasi masyarakat, organisasi pendidikan, media massa dan dunia usaha.

“Peran serta semua pihak terkait memiliki arti penting dalam mensosialisasikan dan edukasi mengenai Hak Anak dan peraturan perundang-undangan tentang anak, ” terangnya.

Anak-anak dieksploitasi untuk memancing rasa iba. Dalihnya untuk ekonomi keluarga. Padahal, anak adalah amanah sekaligus anugerah yang senantiasa kita jaga. Peraturan perundang-undangan telah  memprioritaskan perlindungan anak. Bagaimana negara mengimplementasikannya? (muhammad alawi/danu)