Pemuda Asal Junrejo Kota Batu Ini Manfaatkan Ban Bekas Jadi Perabotan Bernilai Ekonomis Tinggi | SATUKANAL.COM

Lukman, pelaku usaha kreatif asal Kota Batu menyulap ban bekas menjadi perabotan yang memiliki nilai ekonomi.

Satukanal.com — Ali Bisri

Bagian depan rumah Lukman di Jalan Ir. Soekarno Desa Mojorejo Kecamatan Junrejo Kota Batu ini menjadi etalase produk perabotan berbasis ban bekas yang dikreasinya. Ada bak sampah, pot tanaman hingga ayunan mainan anak-anak. Bentuk produk yang menarik, karena dihiasi beragam motif dan berwarna-warni.

Produk-produk itu hasil kreativitas Lukman. Pria 32 tahun ini menyulap limbah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Semua produk terbuat dari ban bekas. Dari ban ukuran besar dari ban kendaraan roda empat, ada juga bekas ban sepeda motor.

Untuk bak sampah,  dibanderol dengan harga Rp40 ribu untuk yang polosan. Sementara, bak sampah yang berwarna dan bergambar itu sekitar Rp65 ribu sampai Rp130 ribu tergantung ukuran dan motif atau gambar di setiap bak sampahnya.

Baca Juga :  Peringati HUT ke-77 RI, Walkot Dewanti Ajak Masyarakat Perkuat Pariwisata dan UMKM di Kota Batu

Lukman memulai produksi perabotan berbasis ban bekas sejak tahun 2013. Sebelum itu, ia terjun ke usaha kreatif ini secara turun temurun. Dari kakek, paman hingga orang tuanya. Usaha ini akhirnya juga menurun ke Lukman.

“Sebelum saya sendiri, itu sudah orang-orang tua itu. Seperti embah dan lainnya itu,” ucapnya.

Usaha produk yang ban bekas ini merupakan usaha turun temurun dari nenek moyang Lukman. (foto: Ali Bisri/satukanal.com)
Usaha produk yang ban bekas ini merupakan usaha turun temurun dari nenek moyang Lukman. (foto: Ali Bisri/satukanal.com)

Menurut Lukman, permintaan lebih banyak  bak sampah dengan berbagai gambar dan motif. Namun, dia juga menyediakan stok pot tanaman dan ayunan anak-anak. Terkadang, ada juga orang yang mencari produk tersebut.

Kondisi pandemi Covid-19 cukup memukul usaha Lukman. Pendapatannya menurun drastis. Sebelum pandemi, dia bisa menghasilkan pendapatan kotor sampai Rp30 juta per bulan.

Ketika kondisi pandemi, Usaha Lukman terpukul. Omsetnya mengalami penurunan hingga 80 persen. Hal ini dipengaruhi tingkat kunjungan wisatawan ke Kota Batu. Sebagian besar konsumen Lukman memang wisatawan yang kebetulan melintas.

Baca Juga :  Tak Perlu Jauh-jauh ke Kota Batu, Warga Malang Bisa Nikmati Stroberi di Jalan Retawu dengan Harga Terjangkau

“Terdampak banget mas, dengan adanya pembatasan itu pengunjung ke Batu jadi nggk ada itu juga berpengaruh terhadap usaha ini mas” imbuhnya.

Namun, saat ini kondisi pandemi Covid-19 perlahan pulih. Wisatawan mulai banyak yang mengunjungi Kota Batu. Omsetnya perlahan meningkat, meski belum normal seperti sebelum pandemi Covid-19.

“Sekarang hanya sekitar Rp8-12 juta dalam perbulannya. Ya, alhamdulillah, sekarang sudah mulai berangsur pulih sejak pandemi ini,” paparnya.

Lukman sempat buka penjualan online. Namun, kini produknya saat ini masih tersedia di kediamannya. Dia berharap kondisi kembali pulih, sehingga usaha masyarakat bisa pulih kembali seperti semula.

Editor : Danu S