Pemkab Kediri Siapkan 2800 Hektare Lahan Buat Pengembangan Beras Biofortifikasi, Produk Khusus Anak Stunting
Beras Biofortifikasi

Caption: Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, dalam acara Rembug Stunting antar forum komunikasi lintas sektor di Convention Hall SLG, Kamis (2/6/2022). (Foto: Istimewa)

Satukanal.com, Kabupaten Kediri – Pengembangan produk beras biofortifikasi bakal dilakukan di Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Lahan seluas 2800 hektare sudah disiapkan untuk menanam beras biofortifikasi yang mengandung manfaat tinggi zinc, dan dipercaya dapat menurunkan angka stunting.

Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana mengatakan, beras biofortifikasi ini adalah beras unggulan yang memang dikhususkan untuk anak-anak stunting.

Pengembangan beras biofortifikasi ini menjadi salah satu langkah penurunan stunting yang akan ditempuh Pemerintah Kabupaten Kediri berkolaborasi dengan pemerintah pusat.

“Kita sedang menyiapkan sekitar 2800 hektare lahan di daerah Purwoasri untuk penanaman beras biofortifikasi,” tutur Mas Dhito, sapaan akrab Hanindhito Himawan Pramana.

Hal itu disampaikan Mas Dhito dalam acara Rembug Stunting antar forum komunikasi lintas sektor di Convention Hall SLG, pada Kamis (2/6/2022).

Baca Juga :  Upacara Tradisi Manusuk Sima, Walikota Kediri Maknai Kebangkitan Ekonomi 

Mas Dhito menjelaskan, beras biofortifikasi yang dimaksud merupakan beras hasil pengembangan Kementerian Pertanian yang memiliki kandungan zinc tinggi melalui varietas unggul padi Inpari IR Nutri Zinc.

Adapun jumlah kasus stunting di Kabupaten Kediri saat ini berada di angka 14,1 persen.

Meski prosentase stunting di Kabupaten Kediri di bawah rata-rata nasional maupun provinsi, Mas Dhito meminta semua pihak untuk tidak terburu-buru merasa puas.

“Saya minta jangan berbesar hati, karena target kita 2023 itu satu digit angka stunting,” beber Mas Dhito.

Baca Juga :  Bupati Kediri Terima Ratusan Mahasiswa KKN Pengembangan Desa

Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Kediri, Dewi Maria Ulfa menyampaikan, upaya penurunan stunting dilaksanakan secara berjenjang dan telah dituangkan dalam surat keputusan pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa.

Diungkapkan Mbak Dewi, sapaan akrab Dewi Maria Ulfa, pada tahun 2019-2022 telah ditetapkan 42 desa di Kabupaten Kediri sebagai lokus stunting.

Kemudian pada 14 Maret 2022 telah disepakati lokus stunting di Kabupaten Kediri pada tahun 2023 yakni sebanyak 343 desa dan satu kelurahan.

“Pada tahun 2023 Kabupaten Kediri telah menjadikan semua desa sebagai lokus stunting,” pungkas Mbak Dewi. (ADV)

Pewarta: Anis
Editor: U Hadi