Masjid Jami Jayapura, Masjid Tertua Di Papua Yang Dibangun Buruh Pelabuhan
May 27, 2022
Masjid Jami Jayapura

Masjid Jami Jayapura, masjid tertua di Papua. (foto: indonesia.go.id)

satukanal.comMasjid Jami Jayapura yang merupakan masjid tertua di Papua ini terletak di gedung berlantai tiga di sudut Jl Percetakan Negara 126, Kelurahan Gurabesi, Kecamatan Jayapura Utara. Tak ada yang menyangka, jika di lantai tiga bangunan terdapat Masjid Jami.

Pada bangunan Masjid Jami Jayapura ini tak ada penanda yang menunjukkan bangunan tersebut adalah sebuah masjid, seperti halnya kubah bulat dengan pucuk bulan sabit dan bintang, sebagaimana masjid lazimnya.

Di bawah Masjid Jami Jayapura yakni lantai 1 dan 2 difungsikan sebagai sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda Ma’arif, Sekolah Dasar Nurul Huda 1 Ma’arif dan Sekolah Menengah Pertama Nurul Huda Ma’arif.

Masjid Jami Jayapura ini berukuran 12 meter x 12 meter. Mampu menampung 200 jamaah. Dindingnya berlapis keramik hijau serta lantai berkeramik putih. Terdapat empat AC di dalam masjid. Hanya digunakan saat salat Jumat.

Sejarah Masjid Jami Jayapura

Masjid Jami tempat ibadah Muslim pertama di Jayapura. Masjid ini dibangun pada 1943. Pembangunan masjid digagas oleh  sejumlah buruh pelabuhan di Hollandia, nama Jayapura saat itu. Para buruh itu adalah pendatang dari Buton, Ternate, Tidore, Halmahera, Waigeo, dan Salawati.

Baca Juga :  Profil Jimmy Aronggear, Pemain Muda Persik Kediri Asal Papua yang Ingin Berkarier di Luar Negeri

Awalnya, bangunan masjid terdiri atas 1 lantai di atas lahan seluas 1.440 meter persegi. Atapnya dari seng dan kubahnya berbentuk limas, seperti lazimnya masjid di Jawa kala itu.

Sebagian besar jamaah yang memanfaatkan masjid adalah sebagian besar buruh pelabuhan dan pedagang yang ingin menunaikan salat lima waktu. Ibadah salat Jumat juga belum dilaksanakan lantaran jumlah jamaahnya masih sedikit.

Masjid ini menjadi saksi sejarah utamanya seputar era 1962-1963. Ketika terjadi peristiwa penyerahan wilayah Papua dari Belanda kepada Indonesia yang difasilitasi militer sekutu, masjid ini banyak didatangi oleh tentara Muslim yang dibawa Inggris dari Asia Selatan seperti India dan Pakistan.

Masjid Jami Jayapura Sempat Dirawat Tentara Pakistan

Para tentara yang sebagian berasal Pakistan menjadikan Masjid Jami sebagai tempat salat dan beristirahat. Para tentara yang bermarga Khan tersebut ikut merawat masjid serta menjadi imam. Bahkan, sebagian  memilih berkeluarga di Jayapura. Bahkan, keturunan-keturunan yang bermarga Khan cukup banyak tinggal di permukiman sekitar kawasan masjid.

Sepeninggal tentara-tentara Pakistan dan India  ditarik ke negara masing-masing, buruh pelabuhan yang merupakan jamaah tetap masjid bergeser lokasi kerja ke kawasan Abe Pantai. Mereka membangun masjid baru yang diberi nama Masjid Al Falah.

Baca Juga :  Profil Jimmy Aronggear, Pemain Muda Persik Kediri Asal Papua yang Ingin Berkarier di Luar Negeri

Walhasil, Masjid Jami Jayapura sempat sepi serta tidak terawat.  Di sekitar masjid bahkan mulai hadir rumah karaoke serta bar. Seorang pendeta lantas meminta pemilik bar dan karaoke segera menutup usaha di dekat masjid.

Pada 1963 itu juga, pengelolaan Masjid Jami Jayapura diambil alih oleh Kodam XVII/Cenderawasih. Seorang pegawai Kementerian Agama bernama H Mansyur D Rahmad lantas mengelola masjid selama 10 tahun.

Pada era itu, masjid mulai membuka lembaga pendidikan, di antaranya; Madrasah Diniyah Ma’arif pada 1966. Setelah itu, pada 1968, LP Ma’arif dibentuk bersamaan digantinya diniyah dengan Madrasah Ibtidaiyah. Sehingga, kawasan masjid juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan serta wadah berkumpulnya organisasi-organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah.

Berturut-turut pada 1970 dibangun SD Nurul Huda lalu 1985 ada SMP Nurul Huda. Pengurus dan pengelola lantas mengubah total bangunan masjid, disatukan dengan gedung sekolah pada 1985, karena tingginya minat warga menyekolahkan anak mereka ke lembaga pendidikan di Masjid Jami.

Kemudian, masjid berpindah ke lantai paling atas. Hal ini dikarenakan untuk menghormati fungsinya sebagai rumah ibadah. (Danu/sumber: indonesia.go.id)