Mahasiswa Teknik Kimia Polinema Sukses Produksi Air Minum Kemasan ‘Tuyoqu’, Tapi…
Polinema

Caption: Air minum ‘Tuyoqu’ produksi mahasiswa Teknik Kimia Polinema (Foto: Lutfia/Satukanal.com)

Satukanal.com, Kota Malang – Mahasiswa Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang (Polinema) berhasil memproduksi air minum kemasan ‘Tuyoqu’ yang dikembangkan sejak tahun 2016.

Telah masuk ke dalam kurikulum pembelajaran, air minum kemasan ‘Tuyoqu’ ini diambil langsung dari sumber mata air Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

“Yang mengerjakan ini mahasiswa Teknik Kimia Polinema, dan sudah masuk ke kurikulum. Semisal dalam satu kelas ada 24 mahasiswa, ya mereka akan masuk semua, jadi bukan ekstrakulikuler,” jelas penanggungjawab proyek ‘Tuyoqu’, Dwina Moentamaria, Sabtu (28/5/2022).

Per harinya, para mahasiswa dapat memproduksi sekitar 1 ton atau lebih dari 200 kardus dengan ukuran menyesuaikan dengan permintaan.

Awalnya, Tuyoqu merupakan program yang dirintis oleh mahasiswa di ajang Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) pada tahun 2010 lalu, yang kemudian diajukan ke Asian Development Bank untuk mendapatkan bantuan atau hibah.

Baca Juga :  Persiapkan Penilaian WBK/WBBM, Kantor Imigrasi Malang Perkuat Kesiapan Bersama Tim Penilai Internal

“Tuyoqu sudah ada dari 2016, sejak kita dapat hibah dari Asian Development Bank, akhirnya kita dikasih mesin yang sudah skala industri,” beber Dwina.

Dwina menjelaskan, proses produksi ‘Tuyoqu’ ini telah mengalami penyaringan sebanyak tiga kali, sehingga dapat dijamin kualitas serta keamanannya.

Akan tetapi, saat ini air minum kemasan ‘Tuyoqu’ masih terkendala dalam hal perizinan, meskipun sudah sampai dalam tahap pengujian oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

“Prosesnya dari tangka bahan baku kemudian masuk ke filter secara bertahap, setelah itu masuk ke ozon supaya bakterinya hilang. Habis itu kita UV lagi, sehingga air itu memenuhi syarat seperti air minum lainnya,” tutur Dwina.

Baca Juga :  Kinerja Ekonomi Jatim Triwulan II 2022 di Atas Rata-Rata Nasional, Tertinggi Se-Pulau Jawa

Karena masih dalam proses perizinan, ‘Tuyoqu’ belum dapat didistribusikan secara masal.

Sampai saat ini, ‘Tuyoqu’ sekadar digunakan untuk kegiatan dan keperluan di lingkup Polinema seperti dalam acara kampus hingga kegiatan mahasiswa.

“Kebutuhan Polinema kira-kira gak sampai 1 ton, tapi kemudian juga digunakan sama mahasiswa untuk acara himpunan, itu insyaallah habis. Karena ini kami belum produksi full, jadi masih berdasarkan kurikulum saja. Untuk harga sekarang sekitar Rp 32 ribu per satu kardus,” pungkas Dwina.

Pewarta: Lutfia
Editor: U Hadi