Epilepsi

ilustrasi seseorang yang mengalami gejala Epilepsi (Foto: Pixabay.com)

Satukanal.com, Nasional– Epilepsi kerapkali dianggap oleh masyarakat sebagai penyakit yang bisa menular. Bahkan, banyak pula yang menilai bahwa penyakit ini merupakan penyakit gangguan jiwa. Padahal, anggap tersebut keliru. Epilepsi adalah penyakit gangguan saraf otak dan tidka mnular.

Hingga saat ini diperkirakan ada sekitar 50 juta orang penderita epilepsi di dunia, bahkan di Indonesia sendiri ada 1,5-2,4 juta orang pada tahun 2013 lalu. Meski begitu 20 persen kasus epilepsi  tidak direspons dengan pengobatan

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM dr. Fajar Maskuri, M.Sc., Sp.S., mengatakan masih ada mitos di masyarakat yang beranggapan bahwa epilepsi bisa menular sehingga ketika menemukan penderita yang tengah kejang tidak ditolong karena khawatir tertular.

“Sebenarnya epilepsi adalah gangguan saraf otak sehingga harus dirawat oleh dokter saraf. Meski bersentuhan kulit atau terkena air liur si penderita saat kita menolong itu tidak akan tertular. Minimal mengamankan pasien terkena cedera saat kejang,” kata Fajar dikutip dari laman ugm.ac.id.

Ia pun menekankan bahwa epilepsi bukanlah gangguan jiwa, meski ada gangguan kognitif dan kecerdasan di bawah rata-rata Disebutkannya bahwa meski sulit diajak berkomunikasi dengan baik akan tetapi penderita epilepsi sebenarnya bisa sembuh bila mendapat penanganan yang tepat.

Baca Juga :  5 Rekomendasi Kedai Ramen Malang yang Ramah di Kantong, Ayo Coba!

“Jika tidak diobati segera maka akan terjadi kerusakan otak lebih berat, semakin sering kejang maka sel-sel di otak akan banyak yang rusak sehingga perlu segera diobati ke dokter saraf,” paparnya.

Tak hanya itu, masih ada beberapa anggapan di masyarakat yang menyebutkan bahwa penderita epilepsi tidak boleh menikah karena khawatir keturunannya akan mengalami penyakit serupa. Kenyataannya penderita epilepsi tetap boleh menikah.

“Tidak ada larangan apalagi memiliki keturunan. Namun, bagi wanita jika hamil harus dikontrol dokter saraf dan dokter kandungan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh dokter spesialis saraf dari RS Sardjito, dr. Atitya Fitri Khairani, M.Sc., Sp.S (K). Menurutnya, penting bagi penderita epilepsi untuk rutin minum obat dalam waktu lama karena terjadi gangguan kelistrikan di otak.

“Saat serangan epilepsi, ada kejadian muatan listrik berlebihan di otak. Meski penyakit ini tidak menular, namun membutuhkan pengobatan intensif dan waktu yang panjang,” ungkapnya.

Dengan persepsi keliru yang beredar di masyarakat tersebut, banyak kasus epilepsi yang tidak tertangani dengan. Padahal, penyakit ini harus mendapatkan pengobatan intensif perhatian khusus.

Gejala Penyakit Ayan

Adapun, penyakit ayan, sebutan lain dari epilepsi terjadi akibat aktivitas abnormal di otak yang dapat memengaruhi proses apa pun yang diatur oleh otak Anda. Dalam banyak kasus, gejala epilepsi berlangsung secara spontan dan singkat.

Baca Juga :  Luar Biasa Pedas! 5 Rekomendasi Kuliner Pedas Malang nan Menggugah Selera

Untuk itu, penting adanya untuk mengenali beberapa tanda dan gejala penyakit ayan yang umumnya etrjadi baik pada bayi, anak atau orang dewasa. Lantas, bagaimana tanda dan gejalanya? berikut rinciannya:

  • Kebingungan sementara.
  • Mata kosong (bengong) menatap satu titik terlalu lama.
  • Gerakan menyentak tak terkendali pada tangan dan kaki.
  • Hilang kesadaran sepenuhnya atau sementara.
  • Gejala psikis.
  • Kekakuan otot.
  • Gemetar (tremor) atau kejang, pada sebagian anggota tubuh (wajah, lengan, kaki) atau keseluruhan.
  • Kejang yang diikuti oleh tubuh menegang dan hilang kesadaran secara tiba-tiba, yang bisa menyebabkan orang tersebut tiba-tiba terjatuh.

Kapan Seseorang Harus ke Dokter?

Hal terpenting ketika mengetahui seseorang mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan di atas adalah penanganan yang dilakukan Lalu, kapan seseorang harus periksa ke dokter? Anda harus segera menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala epilepsi berikut ini:

  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
  • Pernapasan atau kesadaran tidak kembali setelah kejang berhenti.
  • Kejang kedua berlangsung segera setelahnya.
  • Demam tinggi.
  • Kelelahan akibat panas.
  • Sedang hamil.
  • Memiliki diabetes.Pernah mengalami cedera akibat kejang.

(adinda)