Kasus MSA Mencuat Lagi, Aktivis: Polisi Jangan Tebang Pilih!  | SATUKANAL.COM

Syarif saat membawa tulisan bernada protes soal kasus MSA (Anggit/satukanal.com)

Satukanal.com, JombangAliansi Kota Santri Lawan Kekerasan Seksual angkat bicara terkait viralnya aksi kejar-kejaran antara Polisi dengan sebuah mobil yang diduga mengangkut MSA tersngka kasus kekerasan seksual di Jombang pada Minggu (3/7/2022). 

Anggota Aliansi Kota Santri Lawan Kekerasan Seksua, Syarif Abdurrahman mengatakan, kinerja kepolisian dipertanyakan dalam melakukan penangkapan MSA, sebab proses penangkapan tak kunjung berhasil. 

“Ketegasan dari pihak Polisi baik dari Polres Jombang dan Polda Jawa Timur yang tidak ada. Selalu bertele-tele. Padahal mengacu pada pasal 27 ayat 1 UUD negara RI tahun 1945 yakni setiap orang diperlakukan sama di hadapan hukum,” ucap Syarif Abdurrahman, anggota Aliansi Kota Santri Lawan Kekerasan Seksual pada Senin (4/7/2022). 

Syarif juga menuturkan bahwa kasus ini terbilang aneh, pasalnya MSA yang telah ditetapkan tersangka dan jadi DPO masih bisa bergerak bebas tanpa ada proses hukum yang menjeratnya. 

“Ini kan aneh, pelaku itu sudah buat konser, sering update status media sosial, orangnya juga ada di rumah. Cuma Polisi tidak bisa mengambil. Saya rasa kalau Polisi mau maka bisa, Polda Jatim ini pernah menangkap teroris, kanjeng Dimas dan kasus besar lainnya,” katanya. 

Baca Juga :  Cekcok dengan Dalih Sering Di-bully, Pemuda Mojokerto Tusuk Rekan Kerja Pakai Badik

Syarif melanjutkan, prestasi besar Polda Jatim dan Polri secara umum luntur ketika berhadapan dengan kasus ini. 

“Kegagahan Polisi saat perayaan ulang tahun kemarin, ternyata tidak berlaku dalam kasus ini. Kemampuan mitigasi kasus dan keahlian anggota Polri hilang ketika ada kasus ini,” ungkapnya. 

Dari kasus MSA yang berlarut ini, ditakutkan berimbas pada hal lain seperti santri dan pondok pesantren. 

“Orang akan berpikir polisi tebang pilih. Kita semua yakin polisi bisa menangkap kasus ini. melihat prestasi besar mereka. Sekali lagi mau apa tidak. Kasus ini akan jadi titik lemah polisi khususnya Polda Jatim. Prestasi gemilang mereka di kemudian hari akan dianggap tidak sempurna jika belum bisa menyesuaikan kasus ini,” jelasnya. 

Baca Juga :  Berkunjung ke Ponpes Ploso Kediri, Kapolri Listiyo Sigit Minta Doa Kiai untuk Institusi Polri

Kasus yang berbelit ini, juga sejatinya mendapat perlawanan dari pihak pondok pesantren. Dimana saat pihak Polda Jatim akan melakukan penangkapan. Sebelumnya, sepanjang gerbang masuk Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang dijaga ketat ribuan massa berseragam keamanan pondok pada Rabu (12/1/2022) saat pihak Polda Jatim berada di area pondok. 

Ribuan massa ini berjaga di area pondok bukan tanpa alasan. Melainkan mengantisipasi datangnya petugas kepolisian yang kabarnya akan menjemput paksa MSA, anak pengasuh pondok yang diduga melakukan kekerasan terhadap anak dalam hal ini pemerkosaan dan tindakan pencabulan. 

“Dugaan itu sangat kuat, kalau komitmen bahwa mereka cinta tanah air maka harus taat hukum. Ikuti proses, jangan malah menghindar. Buktikan di pengadilan kalau tidak salah. Itu lebih terhormat,” pungkasnya.

 

 

 

Pewarta : Anggit Pujie Widodo
Editor: Ubaidhillah