Jelang Idul Adha, Walkot Malang Minta Ormas Agama Tak Khawatir Berlebihan Dengan PMK | SATUKANAL.COM
Malang

Caption: Wali Kota Malang, Sutiaji (Foto: Lutfia/Satukanal.com)

Satukanal.com, Kota Malang – Menjelang Hari Raya Idul Adha, kekhawatiran masyarakat terhadap wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak masih terus bermunculan.

Anjuran yang diberikan kepada masyarakat agar tidak khawatir berlebihan terhadap permasalahan tersebut semakin digaungkan oleh Pemkot Malang.

Pemkot Malang pun berencana mengumpulkan organisasi-organisasi Islam. Rencananya pertemuan tersebut akan berlangsung pada Senin (20/6/2022) mendatang.

“Dalam waktu dekat saya minta untuk mengumpulkan Dewan Masjid Indonesia (DMI), Muhammadiyah, NU, untuk bersama-sama memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait PMK,” ujar Wali Kota (Walkot) Malang, Sutiaji, Sabtu (18/6/2022).

Baca Juga :  Lagi! Kantor Imigrasi Malang Kenalkan Layanan Eazy Paspor, Kali Ini Gandeng Unisma

Imbaun yang digaungkan Pemkot Malang ini berangkat dari adanya masjid di Tlogomas yang sempat mengumumkan untuk meniadakan penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Kurban. Imbauan itu dikeluarkan sebagai langkah antisipasi terhadap PMK.

Meskipun keputusan tersebut merupakan kebijakan dan keputusan masing-masing masjid, namun Sutiaji berharap tidak muncul kecemasan serupa di masjid yang lainnya.

“Senin nanti dikumpulkan, karena jangan sampai ada kecemasan karena masjid kan untuk menghimpun sedekah dan untuk beramal. Mudah-mudahan nanti menjadi penguatan kita semua. Untuk vaksin masih dicari dan kita tracking kira-kira PMK itu dari mana, dan sekarang Kota Malang kasus PMK kurang lebih 200 sekian dan sudah sembuh separuhnya, mati satu,” bebernya.

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas Pelayanan UKK Kota Probolinggo, Kantor Imigrasi Malang Gelar Rakor Bersama DPMPTSP-Naker

Meskipin sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang sempat mengeluarkan fatwa bahwa berkurban bisa diganti dengan sedekah. Namun Sutiaji tetap berharap tidak ada masjid di Kota Malang yang menolak kurban warga.

“Namanya berkurban ya harus dengan hewan, tidak bisa menggantikannya dengan sedekah,” sebut Sutiaji. (ADV)

Pewarta: Lutfia
Editor: U Hadi