Isi Kekosongan Jabatan, Pemkot Malang Kukuhkan 64 Orang Jadi Pimpinan Sekolah
Malang

Caption: Wali Kota Malang Sutiaji mengukuhkan pejabat fungsional sekolah di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang pada Jumat (3/6/2022). (Foto: Lutfia/Satukanal.com)

Satukanal.com, Kota Malang – Sebanyak 64 orang pejabat fungsional ditetapkan sebagai pimpinan sekolah di Kota Malang, dengan rincian 3 orang menjadi kepala sekolah (Kepsek) TK, 53 orang kepala SD, 4 orang kepala SMP, dan 4 orang pengawas sekolah.

Pengukuhan 64 pimpinan sekolah ini berlangsung di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang pada Jumat (3/6/2022). Prosesi pengukuhan dipimpin oleh Wali Kota Malang, Sutiaji.

Adapun pengukuhan ini dilakukan karena terdapat kekosongan jabatan di beberapa sekolah. Penyebabnya karena pensiun, lainnya akibat pemutasian.

“Per hari ini semua sudah terisi, yang pensiun mulai 1 Juni 2022 sudah terisi, SMP juga sudah terisi. Tapi khusus untuk 3 SMP baru, seperti SMP 28, SMP 29, dan SMP 30 masih belum terisi karena nomenklatur,” jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana.

Baca Juga :  Kala Chant Aremania Berkumandang di Kampung Biru Arema…

Suwarjana melanjutkan, sebelumnya telah terjadi kekosongan pimpinan sekolah karena 18 orang pensiun, dan 3 lainnya telah mendapatkan pengangkatan sebagai pengawas. Lalu ada 39 Kepsek dimutasi untuk kepentingan dinas.

“Ada 39 kepala sekolah yang kami geser, mutasi untuk kepentingan dinas. Kepala sekolah yang sudah pengalaman kami geser ke tengah, ke sekolah yang difavoritkan masyarakat, baru angkatan pertama kami taruh di pinggiran kota,” beber Suwarjana.

Baca Juga :  Arema Injak Usia ke-35 Tahun, Ini Kemeriahan yang Disiapkan untuk Aremania!

Wali Kota Malang, Sutiaji menuturkan, penggeseran jabatan dari sekolah yang dianggap favorit ke sekolah biasa sebagai proses pembuangan. Ia menekankan bahwa sekolah maju bukan hanya berada pada titik-titik tertentu saja.

“Bukan berarti orang dari SMP yang katanya favorit, digeser ke SMP lain itu dibuang, tidak. Dia justru punya PR besar bagaimana mengangkat sekolah lain bisa sama dengan sekolah yang dikatakan favorit,” ujar Sutiaji

Pewarta: Lutfia
Editor: U Hadi