Hasilkan Puluhan Juta, Usaha Ketupat Dan Lepet Tetap Eksis Di Era Modern | SATUKANAL.COM
Hasilkan Puluhan Juta, Usaha Ketupat dan Lepet Tetap Eksis di Era Modern

Suparmi saat membuat ketupat di rumahnya (Foto: Anggit Puji/ Satukanal.com)

Satukanal.com, Jombang -Gantungkan ekonomi lewat produksi ketupat dan lepet, Suparmi (56) warga Dusun Ngembeh RT 6 RW 7 Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, tetap eksis meski zaman sudah modern.

Tak hanya Suparmi yang menggeluti usaha ini, seluruh warga di dusun Ngembeh Kabupaten Jombang itu juga memproduksi panganan khas hari raya Idul Fitri tersebut.

Suparmi sendiri sudah 14 tahun menggantungkan ekonominya dari produksi ketupat dan lepet. Untuk proses produksinya yakni dikerjakan di rumahnya.

Meski, di era modern seperti saat ini, ia tetap bisa bertahan lewat keahliannya itu. Bahkan, ia juga bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitarnya.

“Sudah 14 tahun, awalnya sama keluarga saja tapi sekarang punya 3 karyawan di bantu 2 orang anaknya,” ucapnya pada Senin (6/12/2021).

Baca Juga :  Harga Tabung Gas LPG Non Subsidi Naik, Agen Kena Dampak

Omset yang dia dapatkan terbilang tak main-main. Dengan hanya memproduksi ketupat dan lepet, ia bisa mengantongi keuntungan sebesar Rp 10 juta per bulannya.

“Kalau hari biasa bisa menghabiskan 20 kg beras sedangkan untuk hari raya idul fitri bisa mencapai 1 Kuintal lebih,” jelasnya.

Dalam sehari produksi, dirinya bisa menghabiskan 5 lonjor daun janur dan 25 kelapa yang ia beli dari luar kota. Untuk bahan dasar pembuatan ketupat, yakni menggunakan beras dengan pembungkus yang berasal dari anyaman daun kelapa muda dan janur.

Sedangkan bahan dasar lepet yakni menggunakan beras ketan, ditambah dengaan campuran kelapa yang dibungkus daun kelapa muda janur.  Berbeda dengan ketupat yang dianyam untuk membungkusnya, lepet dibungkus dengan bentuk memanjang seperti lontong.

Baca Juga :  Kata Polresta Mojokerto Soal Anggotanya yang Dikabarkan Digerebek Warga Gegara Selingkuh dengan Istri Tentara

“Untuk penjualan tidak ada banyak kendala, meskipun bukan hari raya, karena sudah punya pelanggan tetap yang menampung hasil olahannya. Biasanya ngirim ke Kediri, Surabaya, Mojokerto, sekali kirim 20 Kg,” ungkapnya.

Menurut Suparmi, Awal ia mendirikan usaha produksi ketupat dan lepet ini, karena Dusun Ngembeh sejak dulu punya khas usaha tersebut. Meski begitu, ia belum mengetahui secara pasti sejak kapan dusunnya jadi tempat produksi panganan tersebut.

Ia berharap usaha ini bisa terus berlanjut, terutama ke generasi milenial saat ini. Sebagai khas dari Dusun Ngembeh, sudah sepatutnya, menurutnya harus ada yang meneruskan.

“Khusus generasi muda memang harusnya ada yang meneruskan usaha ini, karena khas dari dusun ini,” harapnya.

 

 

Pewarta : Anggit Puji
Editor : Adinda