Benarkah Indonesia Alami Fenomena Gelombang Panas
May 22, 2022
Gelombang Panas

Kondisi panas terik terjadi di sejumlah wilayah indonesia dalam beberapa hari terakhir. (Ilustrasi: @infobmkg)

Satukanal.com, Nasional – Sebuah studi menjelaskan gelombang panas yang dikaitkan dengan cuaca panas di Indonesia. Penelitian yang dipimpin oleh University of Bristol, menunjukkan bahwa gelombang panas diproyeksikan akan lebih panas di masa depan diiringi dengan buruknya perubahan iklim.

Gelombang panas atau dikenal dengan “Heatwave” merupakan sebuah fenomena atau kondisi udara panas yang berkepanjangan selama lima hari atau lebih, di mana suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata.

Gelombang panas Amerika Utara bagian barat musim panas lalu, memecahkan rekor dengan suhu tertinggi sepanjang masa yaitu sebesar 49,6 °C di Lytton, British Columbia, pada 29 Juni mendatang, meningkat 4,6 °C dari puncak sebelumnya.

Sedangkan di Indonesia sendiri, hasil pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu maksimum periode 1-7 Mei 2022 sekitar antara 33-36,1 derajat Celcius. Suhu maksimum tertinggi hingga 36,1 derajat Celcius terjadi di wilayah Tangerang, Banten dan Kalimarau, Kalimantan Utara.

Baca Juga :  10 Negara dengan Akses Internet Tercepat, Apakah Indonesia Termasuk?

Adapun suhu maksimum tertinggi di Indonesia pada April selama 4-5 tahun terakhir yakni Terdapat di Palembang pada 2019 dengan suhu sekitar 38,8 derajat Celcius.

Sedangkan pada Mei selama 4-5 tahun terakhir, suhu maksimum tertinggi terjadi di Temindung Samarinda pada tahun 2018 dengan suhu sekitar 38,8 derajat Celcius.

Fenomena gelombang panas biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah bagian Eropa dan Amerika yang dapat dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di lintang menengah.

Sedangkan yang terjadi di wilayah Indonesia sendiri adalah fenomena suhu panas atau terik dalam skala variabilitas harian.

Baca Juga :  7 Situs Pengganti Alexa.com Mulai Gratis Hingga Berbayar

Fenomena tersebut dipicu beberapa hal seperti, Posisi matahari berada di wilayah utara ekuator. Lalu tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujan sangat berkurang. Sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang cukup mendominasi.

Dominasi cuaca yang cerah dan tingkat awan rendah tersebut dapat mengoptimalkan penerimaan sinar matahari di permukaan Bumi, sehingga menyebabkan kondisi suhu yang dirasakan oleh masyarakat menjadi cukup terik pada siang hari.

“Masyarakat diimbau untuk senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan kecukupan cairan tubuh terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dikutip dari Suara.com. (aini/adinda)