Buku Buya Syafii

Buya Syafii Maarif (Fto: Setneg.go)

Satukanal.com, Nasional–  Sebagai sosok yang dikenal sebagai guru bangsa, buku Buya Syafii Maarif seakan menjadi bacaan wajib bagi setiap orang di Indonesia. Bahkan, salah satu bukunya juga merambah hingga pembaca luar negeri yang kemudian ditulisnya dalam bahasa Inggris.

Tak hanya itu, Ia juga dikenal sebagai sosok yang membela kebenaran, menjaga NKRI serta merawat kerukunan umat beragama. Melalui buku yang ditulisnya, ia menyampaika ide-ide keindonesiaan yang dibalut dengan keislaman.

Deretan Buku Buya Syafii Maarif

Buku Buya Syafii Maarif juga menjadi buah pemikiran-pemikiran kritisnya selama ia menjalani hidup sebagai tokoh Indonesia yang menginspirasi banyak orang. Selain buku, tulisan-tulisan Buya Syafii juga banyak dipublikasikan di sejumlah media cetak.

Lantas, apa saja buku karya Buya Syafii yang dinilai fenomenal dan menginspirasi banyak orang? Simak ulasannya  di bawah ini.

1.Membumikan Islam

Buku Membumikan Islam dicetak pada tahun 2019. Dalam buku ini, Buya Syafii menyampaikan argumen-argumen mengenai isu islam, umat dan masalah-masalah sosial. Buya menekankan pentingnya mengembangkan keislaman di tanah air dalam konteks keindonesiaan dan kemanusiaan.

Melalui Membumikan Islam, Buya Syafii juga hendak mengingatkan posisi Islam yang masih belum beranjak dari posisinya di masa lampau. Khususnya setelah masa Al-Afghani dan Abduh, menurut Buya, masih belum banyak yang berhasil disumbangkan dari segi pemikiran Islam fundamental.

“Sebagai guru bangsa, Prof. A. Syafii Maarif menyajikan argumen yang begitu kuat dan komprehensif tentang pentingnya mengembangkan keislaman di tanah air dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan,”  tulis Azyumardi Azra, Guru Besar Pascasarjana UIN Jakarta dikutip dari books.google.co.id.

2. Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita

Kemudian, ada buku  Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita yang diterbitkan pada tahun 2010. Melansir Pusat Studi Agama dan Demokrasi Yayasan Wakaf Paramadina Dalam buku ini, Buya Syafii Maarif secara terbuka menelanjangi ancaman kekerasan oleh kelompok Islam tertentu di Indonesia, yang disebutnya sebagai kelompok “Preman Berjubah.”

Baca Juga :  Tiket Masuk Borobudur Rp 750 Ribu Jadi Sorotan, Begini Tanggapan Ganjar Pranowo

Tak hanya itu, ia juga menyoroti perihal masalah burning issues yang ada kaitannya dengan masalah politik identitas sejak 11 tahun terakhir dengan kemuncula gerakan-gerakan radikal atau setengah radikal yang berbaju Islam.

Secara bersamaan, Buya Syafii juga menunjukkan bahwa kita tidak perlu khawatir dengan ancaman di atas. Sebab menurutnya, masih ada pluralisme yang menomorsatukan keragaman dan bagian esensial bagi keindonesiaan.

3. Mencari Autentisitas dalam Kegalauan

Diterbitkan tahun 2004, karya ini merupakan refleksi dari Syafii Maarif  yang secara serius memikirkan nasib bangsanya, berbagai kegelisahannya yang merupakan dari sisi seorang pendidik di Indonesia.

Dalam buku Buya Syafii ini, ia juga mengajak untuk kembali memikirkan bagaimana nasib pendidikan di bangsa ini.

4. Islam, Kekuatan Doktrin dan Kegamangan Umat

Melansir dari suara.com, buku yang dicetak tahun 1997 ini menyajikan argumen Buya Syafii Maarif  terhadap Islam sebagai doktrin yang mampu bergumul dengan perubahan ruang dan waktu.

Namun,  pada saat yang sama dirasakan pula kritiknya terhadap umat pemeluk yang belum siap untuk itu. Kebelum Siapan ini bertautan rapat dengan perjalanan sejarah yang panjang yang menampilkan wajah Islam seperti yang kita kenal sekarang ini.

5. Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin

Buku Buya Syafii ini pertama kali diterbitkan Buya Syafii pada 1996 melalui terbitan Gema Insani Pers. Melalui buku ini, Buya Syafii hendak mengutarakan realitas politik yang tercermin dalam tingkah laku poolitik praktis partai Islam pada periode Demokrasi Terpimpin.

Mengutip e-Perpus Kemenag, periode tersebut terbilang singkat dalam sejarah Indonesia. Namun, Buya Syafii hendak menunjukkan posisi penting periode Demokrasi Terpimpin bila ditempatkan dalam perspektif sejarah perjuangan partai Islam di Indonesia.

Baca Juga :  Cedera Lutut, Yeremia Rambitan Harus Absen Ikuti Turnamen Selama Enam Bulan

6. Memoar Seorang Anak Kampung

Buku Buya Syafii Maarif berikutnya diterbitkan tahun 2013. Buku ini merupakan jenis buku otobiografi atau tulisan kisah hidup yang ditulis sendiri.

Dalam buku ini, Buya Syafii menceritakan tentang perjalanan hidup dari kampung yang tersuruk hingga merantau untuk mengejar cita-cita.

Melansir dari laman perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah dan repository UMY, buku ini juga menceritakan pertanggungjawaban atas pilihan yang telah diterapkan Buya Syafii, sikap yang telah diambil, dan tindakan yang telah dilakukan sepanjang perjalanan hidupnya.

7. Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam

Berikutnya buku Buya Syafii adalah Krisi Arab dan Masa Depan Dunia Islam. Dalam buku dengan tajuk Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam ini, Buya Syafii merangkum pemikiran kritisnya pada The Golden Ages of Islam. Masa-masa dimana peradaban Islam berkembang pada puncaknya.

Buku terbitan Bunyan atau PT Bentang Pustaka ini juga mengulas pemikiran Buya Syafii yang menyinggung soal nafsu kekuasaan tanpa diiringi dengan kekuatan moral. Pembaca diajak berpikir tentang rasa haus akan kejayaan yang kerap mengalahkan agama, sebagaimana dikutip dari Google Books.

8. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim

Buku Buya Syafii Maarif  selanjutnya adalah Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Dalam buku ini, Buya Syafii menuangkan pemikirannya soal berbagai masalah kemanusiaan yang bersifat ambivalen. Melansir repository UMY, Buya Syafii juga menyoal manusia yang menyebut dirinya mulia namun kerap memperlihatkan perilaku hina.

Buku terbitan Grafindo Khazanah Ilmu tahun 2005 ini juga sekaligus ajakan kepada umat muslim untuk membuka mata bahwa nilai-nilai agama dapat mencegah manusia dalam perilaku hina tersebut. (adinda)