Cegah Radikalisme Di Kampus, Universitas Brawijaya Kerjasama Dengan BNPT | SATUKANAL.COM

Satukanal.com, Malang – Sudah hampir 2 bulan lamanya sejak IA, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya diciduk oleh Densus 88 terkait penyebarluasan paham radikalisme dan intoleran.

Menurut penjelasan dari Dekan FISIP Universitas Brawijaya, Dr. Sholih Mu’adi, S.H., M.Si status IA sampai saat ini masih menjadi mahasiswa aktif. Upaya preventif pun telah dilakukan oleh UB seperti bekerjasama dengan Densus 88 dan BNPT RI.

“Dia masih menjadi mahasiswa aktif, akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi catatan bahwa mahasiswa ini jarang berinteraksi di kampus bahkan dengan teman seangkatannya pun tidak sering berinteraksi,” ujar Dr. Sholih Mu’adi, Kamis (7/7/2022).

Menurutnya, apa yang dilakukan mahasiswanya tersebut masih dalam koridor pemikiran dan belum sampai pada praktik maupun tindakan, sehingga penanganan yang dilakukan masih berupa pembinaan.

“Kalau mindset berarti harus ada pembinaan, tapi kalau sudah melakukan tindakan radikalisme ya harus dilakukan penangkapan dan diadili,” sambungnya.

Tidak ingin kecolongan lagi, usai melakukan kerjasama dengan Densus 88 yang diinisiasi oleh FISIP UB, pada Rabu (6/7/2022) lalu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI kemudian menyusul mengunjungi Universitas Brawijaya untuk mencegah paham radikal di kampus.

Kepala BNPT, Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, MH mengungkapkan bahwa media sosial sudah menjadi tempat pelaku terorisme menggencarkan propagandanya.

“Terorisme sangat berkepentingan dengan media terutama media sosial, dia butuh pengakuan. Menimbulkan kekuatan yang luas melalui media sosial sehingga dia ingin eksistensinya diakui orang,” ungkapnya.

Tak hanya penanaman nilai-nilai pancasila, namun masyarakat terlebih mahasiswa perlu sadar bahwa terorisme bukanlah misi keagamaan. Alih-alih menjadi misi agama, terorisme justru merupakan identitas yang dapat menjadi penghinaan terhadap agama.

“Virus intoleransi tidak kalah cepat menyebar seperti virus Covid-19. Kami tidak ingin teroris mengatasnamakan misi agama yang memang sengaja dihembuskan kelompok-kelompok tertentu,” lanjutnya.

 

 

 

Pewarta: Lutfia
Editor: Ubaidhillah