9 Cara Aman Konsumsi Daging Kurban Di Tengah Wabah PMK, Penting Diketahui! | SATUKANAL.COM
Cara Aman Konsumsi Daging Kurban

Ilustrasi daging kurban (Foto: freepik)

Satukanal.com, Nasional– Ada cara aman konsumsi daging kurban, di tengah mewabahnya kasus PMK atau Peyakit Mulut dan Kuku. Lantas, bagaimana caranya? Simak ulasanya di bawah ini.

Seperti diketahui umat Islam pada 10 Dzulhijah 1443 H–diperkirakan jatuh pada 10 Juli 2022—akan merayakan Hari Raya Idul Adha sekaligus melaksanakan ibadah memotong hewan kurban sapi, kerbau, domba atau kambing.

Permalasahannya, pelaksanaan pemotongan hewan kurban tersebut terjadi saat sebagian besar wilayah di Indonesia sedang dilanda Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Hingga 20 Juni 2022, wabah PMK sudah menyebar ke 208 kota dan kabupaten di 19 Provinsi di Tanah Air.

PMK sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Aphtaee epizootecae. Virus ini mudah menular kepada ternak, khususnya hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, domba/kambing dan juga babi.

Cara Aman Konsumsi Daging Kurban

Berikut ini cara aman konsumsi daging kurban yang perlu diketahui masyarakat, panita dan petugas kurban:

1. Penanganan dan pemrosesan daging ternak harus dilakukan dengan benar

PMK ini tidak menulari manusia sehingga mengkonsumsi daging ternak pada saat wabah PMK tetap aman.  Syaratnya penanganan dan pemrosesan daging ternak tersebut dilakukan dengan benar, misalnya disimpan dalam freezer dan  dimasak terlebih dulu minimal 30 menit pada suhu minimal 70 derajat celcius.

2. Pelaksanaan prosedur biosekuriti ketat

Kendati tidak membahayakan manusia, ternak yang tertular virus PMK bisa mati jika tidak dicegah dan ditangani secara serius. Karena itu, pada saat Idul Adha nanti masyarakat yang akan memotong sendiri hewan kurban, seperti di mesjid-mesjid, perkampungan atau perumahan harus melaksanakannya dengan prosedur biosekuriti ketat. Tujuannya agar virus penyebab PMK tidak semakin menyebar pasca pemotongan hewan kurban.

Masyarakat, panitia atau petugas kurban wajib melakukan biosekuriti yang ketat. Misalnya, petugas kurban dilarang membuang limbah kurban ke sungai atau selokan. Limbah sisa kurban harus dibuang ke septic tank atau ditimbun di tanah.

Baca Juga :  Ramai Soal Operasi Bariatrik yang Dilakukan Melly Goeslaw, Apa itu?

3. Memastikan hewan ternak sehat dan tidak cacat

Masyarakat yang memotong sendiri hewan kurban harus memastikan bahwa sapi, domba atau kambing yang akan dipotong benar-benar sehat dan tidak cacat yang dibuktikan dengan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) atau sertifikat veteriner di dinas peternakan setempat.

4. Dokter hewan memeriksa hewan sebelum 12 jam pemotongan

Adapun, 12 jam sebelum pemotongan, dokter hewan harus memeriksa dan memastikan bahwa hewan kurban tersebut sehat dan tidak mengindikasikan adanya penyakit, khususnya PMK. Dokter hewan juga harus memeriksa daging dan jeroan hewan kurban pasca pemotongan. Hal in sebagai upaya cara aman konsumsi daging kurban.

5. Panitia kurban juga wajib menyediakan sejumlah fasilitas

Panitia kurban juga wajib menyediakan sejumlah fasilitas, seperi alat pelindung diri (APD) untuk para petugas pemotongan hewan dan dagingnya, tempat perebusan untuk jeroan, ekor, kepala dan kaki. Lalu juga harus menyediakan air bersih, disinfektan dan tempat penanganan limbah.

Petugas kurban juga harus disemprot disinfektan sebelum meninggalkan lokasi penyembelihan dan pemotongan daging kurban. Petugas kurban yang kebetulan memiliki ternak juga dilarang  mendatangi kandang sebelum disemprot dulu disinfektan.

6. Bagian tertentu pada daging tidak dibagikan

Cara aman konsumsi daging kurban yang perlu diperhatikan yakni panitia kurban tidak membagikan mentah untuk bagian jeroan, kepala, kaki dan buntut kepada masyarakat. Bagian-bagian tersebut harus direbus dulu minimal 30 menit pada suhu minimal 70 derajat celcius sebelum dibagikan ke masyarakat.

7. Memikirkan alternatif cara berkurban lainnya

Selama Idul Adha, masyarakat memang masih bisa memotong kurban sendiri. Namun, ada baiknya masyarakat juga memikirkan alternatif cara berkurban lainnya. Misalnya berkurban secara online, yakni menitipkan uangnya ke lembaga-lembaga tertentu untuk dibelikan hewan kurban, dipotong dan didistribusikan.

Baca Juga :  2 Manfaat Daun Salam Untuk Kecantikan Wajah, Bisa Bikin Cerah Merona!

Selain itu, pekurban bisa meminta bantuan jasa Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di kota dan kabupaten setempat untuk meminimalisir penyebaran virus PMK.  Cara-cara alternatif tersebut tetap bisa memenuhi syariat agama Islam.

8. Isolasi ternak

Tahap isolasi yang dilakukan pada ternak bertujuan bukan untuk menunggu ternak sembuh, tetapi untuk mencegah penyebaran virus penyebab PMK ke ternak sehat.

Tindakan isolasi ini tidak hanya dilakukan untuk hewan yang sakit, tetapi juga untuk hewan yang sehat. Hal ini dilakukan karena kita tidak tau hewan yang baru datang berasal dari mana.

Proses isolasi ini dilakukan di daerah yang sedang terjangkit wabah PMK. Sementara untuk daerah yang bebas wabah dianjurkan untuk langsung disembelih.

9. Rebus hewan kurban terlebih dahulu

Hal ini dilakukan supaya ternak aman dikonsumsi dan tidak mencemari lingkungan, disarankan untuk merebusnya setelah disembelih. Kaki, kepala, jeroan, dan tulang ternak harus direbus terlebih dahulu sebelum diedarkan.

Selain itu, isian jeroan, paru-paru, usus, dan daging ternak tidak boleh disatukan di dalam satu wadah, karena virus dapat mengendap di beberapa bagian organ dalam ternak. Apalagi, virus ini banyak banget di laring, jakun, dan trakea, jadi tidak menutup kemungkinan virusnya ada di sana.

Hal ini juga berlaku untuk kepala ternak, karena virus umumnya bersarang di bagian kepala seperti mulut, langit-langit mulut, rongga hidung, kerongkongan, dan kelenjar pertahanan kepala. Semua bagian tersebut masih bisa dikonsumsi dengan dengan catatan, wajib direbus terlebih dahulu dalam wadah terpisah sebelum diedarkan.

Nah, itulah beberapa hal mengenai cara aman konsumsi daging kurban di tengah wabah PMK. Prsedur-prosedur di atas wajib diketahui oleh masyarakat terutama panitia kurban. Semoga bermanfaat.

 

(Adinda)