Buntut Panjang Kasus KDRT Oleh Salah Satu Advokat Di Kota Malang, Pelaku Akhirnya Ditahan | SATUKANAL.COM

Foto: YLBHI-LBH pos Malang ketika melakukan tindaklanjutan kasus KDRT atas MM terhadap LS di Kejaksaan Negeri Kota Malang (Foto: Lutfia/Satukanal.com)

Satukanal.com, Kota Malang – Pada tahun 2017 lalu, Kota Malang sempat digegerkan dengan kasus KDRT yang dilakukan oleh MM yang berprofesi sebagai pengacara terhadap istrinya, LS.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI-LBH) Surabaya dan YLBHI-LBH Pos Malang sebagai yayasan yang mendampingi korban sempat dibuat geram lantaran MM yang hanya divonis 2 bulan tersebut tak kunjung ditahan.

YLBHI-LBH pos Malang pun turut mendatangi Kejaksaan Negeri Kota Malang untuk menindaklanjuti eksekusi putusan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht) tersebut.

“Sebenarnya putusan sudah inkracht sejak 7 November 2017 namun sampai 2022 ini belum ditahan. Kami coba ke sana (Kejari Kota Malang), jaksa yang dulu menangani kasus ini sudah dipindah 4 tahun yang lalu sehingga butuh koordinasi. Akhirnya baru dapat kabar hari ini kalau Selasa (5/7/2022) sudah ditahan di Kejaksaan,” ujar Tri Eva Oktaviani selaku Advokat Publik LBH Pos Malang pada Jumat (8/7/2022).

Perlakuan keji MM telah dirasakan oleh LS sejak awal pernikahan mereka pada 5 September 2014 lalu. MM dinilai terlalu posesif dan cemburu sehingga berujung pada kekerasan yang dialami oleh LS baik kekerasan verbal maupun fisik hingga psikis. Lebih parahnya, tindak kekerasan yang dilakukan oleh MM tersebut sampai diperlihatkan kepada anak-anak LS.

“LS tidak mau melapor dan membiarkan hal itu karna khawatir akan berimbas kepada anak-anaknya. Puncaknya ketika LS ingin mutasi kerja, MM marah besar dan mengusir LS beserta anak dari kediaman MM. Anak-anaknya masih sekolah, dijemput dan disuruh keluar dan pindah ke kos daerah Mojolangu,” sambungnya.

Tak hanya itu, pada tahun 2016 MM pun sempat melakukan kekerasan terhadap LS yang menimbulkan kegaduhan. Anak-anak yang mengetahui peristiwa tersebut sontak berteriak supaya ibunya dapat ditolong namun tidak ada tetangga yang berani menolong LS. Sampai pada akhirnya anak kedua LS berlari menuju Koramil Mojolangu.

“Anggota TNI tersebut menjadi saksi di Pengadilan Negeri. Dari kesaksiannya, ketika beliau datang, LS sudah duduk bersimpuh memohon ampun dan melihat ada luka lebam di tubuh LS. Sempat diusir Pak Koramilnya tapi kemudian dievakuasi ke Polresta Malang Kota. Nginep di sana dan besoknya visum di RSUD,” jelas Eva.

Saat ini LS telah kembali ke Medan dan masih dalam proses pengajuan gugatan perceraian. Eva pun turut menjelaskan kondisi LS masih mengalami trauma ketika disinggung persoalan tersebut.

“Dia ingin menuntut keadilan, tetapi terpendam selama bertahun-tahun. Bisa dibayangkan, masih ada trauma psikologis kalau bertemu sama suaminya,” tegas Eva.

 

Pewarta: Lutfia
Editor: Ubaidhillah