Ibu Rumah Tangga Di Jombang Kembangkan Budidaya Baklok Jamur Tiram, Mampu Produksi 1000 Baklok | SATUKANAL.COM
May 22, 2022
budidaya baklok jamur tiram

Baklok milik Elis yang disimpan di tempat khusus di belakang rumahnya. (Anggit/Satukanal.com)

Satukanal.com, Jombang– Budidaya baklok jamur tiram memiliki prospek yang bagus. Menggunakan serbuk kayu, Seorang ibu rumah tangga di Jombang bisa menghasilkan 1000 baklok yang ditempatkan di belakang rumahnya. Sebagai media tanam jamur, baklok ini banyak diburu oleh pembudidaya jamur.

Usaha budidaya baklok jamur tiram ini dikembangkan oleh Elis Zumrotul Mufidah, seorang ibu rumah tangga asal Dusun Tawar, Desa Grogol, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Memulai usaha sejak tahun 2008, saat ini Elis memiliki tempat penyimpanan baklok di belakang rumahnya yang bisa menampung 1000 baklok hasil produksinya.

Bahan budidaya baklok jamur tiram disebut sangat mudah, hanya menggunakan serbuk kayu sengon. “Untuk bahan pembuatan media tanamnya, yakni dari serbuk kayu (grajen), bekatul, polar itu dedeknya gandum, biasanya dibuat makan sapi dan plastik. Difermentasikan hingga proses pembibitan kira-kira sampai 2 bulan,” ucapnya.

Pada budidaya baklok jamur tiram ini awalnya tak ada bibit. Kemudian diberikan bibit, yang semula warna dari Jamur ini hitam kecoklatan dan mengeluarkan miselium putih yang menandakan jamur sudah bisa dipanen.

Waktu yang dibutuhkan pun tidak sebentar, Elis sapaan akrabnya mengatakan butuh waktu dua bulan, tergantung masa tanamnya bisa jadi sampai sampai 5 bulan.

Baca Juga :  Pilu Tenaga Honorer Tanpa THR di Jombang: Sama-sama Bekerja, Tapi Beda Hak

“Baklok jamur tiram ini bisa bertahan sampai 5 bulan. Setelah jadi, baklok tinggal ditempatkan di ruangan yang lembab dan harus ada sirkulasi udaranya. Setelah itu tinggal menunggu jamur tumbuh dan siap dipanen,” ujarnya.

Awal Mula Budidaya Baklok Jamur Tiram

Elis sendiri memulai budidaya jamur ini mulai tahun 2008 dengan beli ke pedagang lain. Baru kemudian di tahun 2011, ia memulai membuat baklok sendiri dan kemudian dijual. “Sebelumnya masih beli, untuk perawatan jamurnya saja,” katanya.

Wanita satu anak ini rogoh kocek sendiri untuk membeli baklok. Hal itu juga ia lakukan, sekaligus membuat kandang di belakang rumahnya di Dusun Tawar, Desa Grogol, Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.

“Modal awal sebelum buat beli baklok nya Rp 1.5 juta sekaligus pembuatan tempat dibelakang rumah tidak sampai satu hektar,” ungkapnya.

Elis juga memberikan saran kepada masyarakat yang ingin atau sedang bertanam Jamur, agar jamur tiram dapat dipanen dengan baik dengan suhu cuaca yang tidak terlalu panas.

“Suhu bagus untuk jamur kisaran 25 sampai 28 derajat celcius, kalau sudah 30 derajat ke atas tidak bagus,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kasus Keracunan Massal, Tuan Rumah Hajatan Disebut Sudah Datangi Keluarga Korban

Sementara itu, di dalam kandang, tepat di belakang rumahnya, ia jadikan tempat menyimpan baklok jamur tiram. Disebutkan, tempat tersebut tidak sampai satu hektar dan dapat menampung sekitar 1.000 baklok.

“Biasanya dari 1.000 media tanam ini sehari bisa menghasilkan 3-5 Kg. Kalau pemasaran biasanya saya jual ke pasar Cukir, Pasar Legi, Pasar Pon,” paparnya.

Usaha baklok jamur tiram yang sudah digagas nya sejak tahun 2011 ini, biasanya dijual ke pedagang pasar dengan harga kisaran Rp 1,5 ribu 1 ons dan pedagang menjualnya Rp 2 ribu.

“Jamur tahan satu hari kalau tidak kena sinar matahari. Kalau di letakkan di dekat ruangan yang ada udara bisa kuat satu minggu,” katanya.

Ia pun menyebut dari hasil budidaya jamur tiram ini ia bisa hidup berkecukupan. Paling terpenting adalah dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak.

“Kalau hasilnya, tidak menentu soalnya tergantung hasil panen setiap harinya, tapi Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.

Reporter : Anggit Pujie Widodo

Editor : Danu S