Respon Budi Santosa Purwokartiko, Ketua MUI Cholil Nafis: Perguruan Tinggi Harus Dibersihkan Dari Orang Rasis
May 27, 2022
Budi Santosa Purwokartiko

Pernyataan Budi Santosa Purwokartiko yang viral di media sosial. (foto: SC FB Budi Santosa Purwokartiko)

satukanal.com – Pernyataan rasial Budi Santosa Purwokartiko menyulut respon. Ada desakan agar Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) itu diberi sanksi karena statusnya di media sosial yang bernada rasial itu.
Ketua Majelis Ulama Indonesia MUI Muhammad Cholil Nafis mendesak, agar Budi Santosa Purwokartiko diberi sanksi. Karena, pernyataannya tentang wanita berhijab sama dengan manusia gurun itu berbau rasialisme.
Dalam akun twitternya @cholilnafisc, Cholil menegaskan, pernyataan tersebut tak seharusnya keluar dari seorang guru besar. Terlebih, Budi Santosa Purwokartiko juga merupakan penyeleksi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang didanai rakyat.
Cholil berpendapat Budi Santosa Purwokartiko terjangkit penyakit hasut dan primitif. Sosok seperti itu, lanjut dia, tak seharusnya dipertahankan perguruan tinggi.
“Harus diberi tindakan dan pelajaran orang semacam ini. Tak layak dengan gelar akademik guru besar dan penyeleksi bea siswa LPDP yang uangnya berasal dari rakyat. Dia terjangkit penyakit primitif, harusnya dibersihkan perguruan tinggi dari orang rasis itu,” tutur Cholil .

Seperti diberitakan satukanal.com, Budi Santosa Purwokartiko menjadi perbincangan karena tulisannya  di media sosial. Tulisan sosok guru besar sekaligus rektor Institut Kalimantan  ini pun dinilai memuat unsur rasisme dan islamofobia.

Diunggah melalui status Facebook pribadinya pada Rabu (27/04/2022), salah satu bagian tulisan menyinggung soal perbandingan mahasiswa yang sempat ia wawancarai untuk seleksi beasiswa dengan mahasiswa yang kerap membahas soal kehidupan setelah mati dan menggunakan istilah-istilah Islami.

“Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata2nya juga jauh dari kata2 langit:insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dsb.,” tulis Budi Santosa melalui akun Facebook pribadinya.

Ia juga menggunakan istilah ‘penutup kepala manusia gurun’ yang ia muat dalam tulisannya. “Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun.,” lanjut Budi Santosa dalam tulisannya. (Danu)