SATUKANAL.COM
apa itu klitih
Ilustrasi klitih (Foto: suara.com)
BERITA Hiburan Kanal Viral Kanal Viral

Apa Itu Klitih yang Ramai Diperbincangkan Hingga Menelan Korban di Yogyakarta?

Satukanal.com, Nasional– Baru-baru ini, istilah klitih menjadi ramai diperbincangkan usai menelan seorang korban di Yogyakarta. Pertanyaan mengenai apa itu klitih pun banyak dipertanyakan orang.

Menungkil dari kompas.com, Senin (4/4/2022), remaja asal Kebumen bernama Dafa Adzin Albasith tewas diduga karena sabetan gir anggota klitih.

Peristiwa nahas tersebut terjadi pada dini hari, saat Dafa dan teman-temannya hendak mencari makan sahur.

Dalam perjalanan rombongan Dafa bertemu dengan klitih. Meskipun identik dengan tindakan kriminal, makna asli klitih berbanding terbalik dari penafsirannya saat ini.  Lantas apa itu klitih? Berikut penjelasannya:

Makna asli istilah klitih adalah kegiatan keluar rumah di malam hari untuk menghilangkan kepenatan. Tidak ada konotasi negatif pada makna asli klitih.

“Klitih dulu sebetulnya hanya aktivitas orang keluar malam mencari kegiatan untuk mengatasi kepenatan,” terang Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito dikutip dari kompas.com.

Asal kata klitih adalah bentuk kata ulang yaitu klithah-klithih yang bermakna jalan bolak-balik agak kebingungan. Hal itu merujuk pada Kamus Bahasa Jawa SA Mangunsuwito, seperti diberitakan di Harian Kompas (18/12/2016).

Pakar bahasa Jawa sekaligus Guru Besar Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Pranowo menjelaskan, klithah-klithih masuk kategori dwilingga salin suara, atau kata ulang berubah bunyi.

Sayangya, saat ini, istilah klitih telah mengalami pergeseran kepada hal negatif yakni tindakan kriminalitas dan anarkistis. Pada banyak kasus yang ditemukan di Yogyakarta, klitih justru dilakukan oleh remaja.

Aksi klitih ini merupakan bentuk disorientasi pada remaja. Misalnya, remaja yang memiliki permasalahan di keluarga, mempunyai beban di sekolah, mendapat stigma buruk di lingkungan dan komunitas, memiliki ruang ekspresi terbatas, dan lainnya.

Arie menyebutkan bahwa Ia menuturkan, ada tiga penyebab aksi klitih masih terjadi. Pertama, kegagalan masyarakat dalam memberikan kontrol pada pelaku aksi klitih.

Kedua, pemerintah dianggap kurang intensif dalam melakukan pencegahan. Sementara ketiga, peran media sosial turut memperluas ruang untuk saling komunikasi antaranggota kelompok klitih.

Menurutnya, fenomena klitih di Yogyakarta ini pun tidak bisa dianggap sepele. Dibutuhkan pendekatan psikologis dengan melibatkan pihak-pihak yang memiliki peran penting, antara lain keluarga, guru di sekolah, lingkungan, dan komunitas.

Selain itu, ia juga menyarankan agar pemerintah daerah mengambil langkah proaktif berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait guna mengantisipasi aksi klitih. (adinda)

Kanal Terkait

Satukanal.com